Tampilkan postingan dengan label young adult. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2013

Jejak Sunyi Suara Hati



Jejak Sunyi Suara Hati
oleh Firdausi R.
.
.



Pada waktu yang berlalu satu tahun ke belakang, sekali pun tak pernah si gadis, Lea, menujukan irisnya pada laki-laki itu. Yah, mungkin untuk melihatnya sekilas atau sambil lalu memang pernah. Tapi secara sembunyi-sembunyi dan menyiratkan maksud tertentu, tidak sekali pun ia pernah punya niat begitu. Kemudian waktu berlalu. Pujaan-pujaan gadis terhadap pria itu selalu melayang masuk ke telinganya. Membuat syaraf motoriknya tergoda untuk mengarahkan bola matanya, menganalisis. Sekali… dua kali… Lalu tanpa sadar sosok laki-laki itu mulai menjadi hal yang adiktif bagi matanya, menggambarkan tiap detil sosok itu yang terus membayang-bayangi otaknya.
Grey, nama pria itu. Pengejaannya sama seperti warna abu. Cukup cocok dengan rambutnya yang berwarna keperakan. Setidaknya begitu yang ia pikirkan. Grey cukup dipuja oleh para gadis sekampus terutama teman-teman satu angkatannya. Wajar saja. Setelah setahun ia mengamati Grey, ia baru menyadari daya tarik laki-laki itu. Kulitnya putih bersih. Tulang rahangnya tak begitu terbentuk di wajahnya tapi cukup mengesankan bahwa memang ia adalah laki-laki. Dagunya agak panjang. Bibirnya tipis agak ranum dan sering terkatup, ia memang jarang bicara. Rambutnya keperakan. Ada sedikit poni menjuntai di atas keningnya menampakan dengan jelas mata yang agak sipit. Mungkin ia ada seperempat keturunan etnis China.
Grey bukan tipe cowok yang gagah. Grey juga bukan tipe laki-laki yang suka tebar pesona. Grey adalah laki-laki pendiam dan agak malu-malu. Karenanya, ia sekali pun tidak pernah tertarik pada Grey dulunya, karena bagi gadis itu sulit menghadapi orang dengan tipikal yang sama dengan dirinya. Dan selama waktu berjalan lebih dari satu tahun, mungkin ia bisa menghitung dengan jari tangannya seberapa sering ia bicara dengan Grey. Untuk bicara basa-basi, bahkan jari pun tak bisa menghitungnya sebab hal itu sama sekali tidak pernah terjadi.
Sekali lagi hari ini, hanya dengan suara berdehem Grey, matanya mencuri-curi kesempatan untuk memuaskan hasratnya akan sosok itu. Setiap kali sosok itu tertangkap di lensanya, seakan ada drainase yang bocor dan tekanan dari otot jantung yang over kontraksi, pusarannya memusat di kedua pipinya, mengakukan seluruh tubuhnya. Ia tetap pada tempatnya. Menatap laki-laki itu dalam waktu yang dicurinya, menikmati setiap adrenalin yang menjadi euforia hasrat hatinya.
-o0o-
Namanya Lea Raicheal Collins. Lahir musim semi, bulan Mei tanggal tujuh. Dari lahir sampai detik ini tak sekali pun ia pindah meninggalkan kota ini. Kesukaannya kopi, senang dengan musik beraliran alternative, hobi membaca buku terutama novel fantasi, fanatik terhadap hal-hal yang berbau jepang maupun benda-benda berwarna gelap. Setidaknya begitulah yang Grey tahu tentang gadis pujaannya.
Sejak kapan ia mulai jatuh cinta pada gadis itu, tepatnya ia tidak tahu. Tapi mungkin sudah cukup lama sampai-sampai ia mulai terbiasa dengan keadaan jantung yang tak mau berhenti berdetak kencang setiap gadis itu tertangkap oleh iris matanya.
Awalnya ia tak menaruh perhatian pada Lea, sama sekali tidak. Tapi ketidakanggunannya menjadi keunikan yang sering dibicarakan para kaum lelaki teman-temannya. Bukan karena mereka tertarik, tentu saja. Tapi hanya karena gadis itu unik, hanya seperti itu. Cuap-cuapan itu seperti doktrin bagi otaknya. Telinganya merekam, matanya melukis khayal di antara sela-sela otak. Sosok Lea menjadi cukup nyata membayangi dirinya.
Lea cantik menurutnya. Meski ketidakanggunan dan ketertutupan dirinya menyembunyikan hal itu. Wajahnya ovale, meski agak bulat di daerah pipi ketika ia tersenyum. Sebut saja tembem atau apalah. Bola matanya hijau kristal, terlihat tegas meski kadang terlihat begitu mengantuk. Hidungnya yang tidak begitu mancung tapi lancip menambah ketegasan yang cantik di parasnya. Bibirnya sering terlihat datar sebab ia memang sering terlihat begitu bosan. Tapi warna kemerahan yang terpoles di sana membuat Grey ingin sekali menyentuh bibir itu, mengecupnya.
Lea tidak anggun. Ya, memang. Grey sendiri setuju dengan pendapat yang dilontarkan semua teman laki-lakinya yang pernah berkomentar tentang gadis itu. Tak pernah sekali pun gadis itu mengenakan rok atau mini-skirt. Selalu denim maupun celana jeans panjang yang memperlihatkan lekuk kakinya yang jenjang yang ia kenakan. Celana itu selalu dipadukan dengan sepatu yang cocok – kebanyakan wedges boots hitam setinggi mata kaki. Atasannnya sering kaos tanpa lengan yang tidak longgar juga tidak ketat dilapisi kemeja tanpa di kancing, kemudian dibalut lagi dengan blazer berlengan sampai siku. Kadang juga kemeja yang ditumpuk lagi dengan coat yang hampir sepanjang lutut. Grey akui ia sangat menyukai style gadis itu. Lea tidak anggun, mungkin. Tapi kadang Grey melihatnya sebagai wanita feminin dengan caranya sendiri dan anggun dalam keunikannya.
Gadis itu cukup pendiam, tipikal yang sama dengan dirinya sendiri. Lea juga bisa dibilang kutu buku. Tapi ia bukan seseorang yang dikucilkan seperti kebanyakan kutu buku lainnya. Malahan ia cukup banyak punya teman meski jarang bicara di antara kelompoknya. Mungkin karena gaya pakaiannya yang tidak ketinggalan jaman. Mungkin karena ketidakanggunannya yang membuat ia terlihat lebih kuat keberadaannya. Mungkin karena ketegasan yang kadang begitu tersurat dari garis wajahnya yang lebih sering tampak malu-malu canggung dan kadang bosan. Dan itu yang mungkin membuat Grey takhluk diam-diam padanya.
Lea tipikal yang sama dengannya, tapi mungkin lebih fleksibel. Sebab meski pada awalnya canggung, gadis itu mampu berbaur dengan lawan jenisnya. Bercanda, tersenyum, tertawa, bahkan saling mengejek. Sial bagi Grey, sekali pun tak pernah Lea tertawa seperti itu padanya. Sekali pun tak pernah suara yang terdengar agak serak itu bercanda bebas dengannya. Kadang Grey mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa dengan lancar bicara pada anak perempuan. Apalagi dengan Lea. Kegugupan yang menjalari seluruh tubuhnya membuat suaranya menyangkut di tenggorakan. Bahkan otot mulutnya pun begitu kaku untuk tersenyum ketika mereka tanpa sengaja saling bertatapan.
Grey mengambil tempat duduk di baris kedua dari belakang, tempat ia biasanya duduk. Satu deretan dengan Lea tentu saja, meski jarak mereka dipisahkan hampir sepuluh kursi di antaranya, tapi dari situ Grey bisa dengan sembunyi-sembunyi menatap gadis itu. Jika suatu saat mereka saling bertukar pandang secara kebetulan, ketika itu Grey tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyapanya dengan senyum. Sayang Lea hanya menunduk sambil menopang dagu dengan bosan dan setengah wajahnya tertutup rambut coklatnya yang tergerai setiap kali matanya berusaha menangkap sosok gadis itu. Kecewa mungkin sedikit terbersit, tapi kepuasan mata dan hatinya cukup terpenuhi hanya dengan memerhatikan gadis itu selama dua jam ceramah kuliah yang membosankan.
-o0o-
Mungkin Tuhan juga gemas dengan mereka. Kesempatan kecil yang Ia berikan selalu disia-siakan oleh kedua makhluk itu. Hingga pada akhirnya kesempatan besar mungkin yang diberikan-Nya hari ini.
Grey mungkin tadi kesal dan menyumpah dalam hati sebab teman-temannya membuatnya menunggu seorang diri. Mereka bilang janji akan menemuinya secepatnya setelah urusan mereka di klub selesai dan urusan itu, mereka bersumpah tak akan lama. Tapi pada kenyataannya Grey menunggu setengah jam di samping lapangan rugby, tempat pertemuan klub temannya, dan urusan itu sama sekali belum selesai. Grey terus menyumpah dalam hati selama perjalanannya di koridor kampus setelah bosan menunggu berdiri di samping lapangan rugby. Kalau saja ia tidak menemukan sosok Lea di depannya, mungkin sumpah serapah itu takkan berhenti.
Agak terkejut, jantungnya tiba-tiba over kontraksi, mendentum berlebihan pada dinding dada. Gadis itu sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon akasia yang rindang, tak jauh dari tempat ia berdiri. Tangannya terlipat di bawah dada. Kakinya menyilang dan tak mau diam. Beberapa kali ia menguap, sepertinya kelihatan bosan sekali. Menurut dugaannya, Lea pasti sedang menunggu seseorang.
Lea berdecak kesal. Menunggu adalah hal paling membosankan yang paling ia benci. Makanya ia lebih senang mengendarai mobil sendiri atau jalan kaki. Tapi perihal kecelakaan kecil yang ia alami seminggu lalu membuatnya tak dipercaya lagi untuk mengendarai mobil sendiri. Dan jalan kaki bukan pilihan yang diajukan oleh kedua orang tuanya. Mau tidak mau ia harus patuh diantar-jemput saat kuliah.
Ketika menguap untuk entah yang ke berapa kalinya, ia melayangkan matanya ke arah lain, kalau-kalau menemui sosok Grey yang menjadi candu itu. Dan benar saja, di sisi kiri, Grey sedang berdiri diam tak jauh dari sana. Pandangan mereka saling bertemu dan karena terkejut, secepatnya Lea menundukkan wajahnya.
Sial, gerutu Lea berkali-kali dalam hatinya. Apa Grey sejak tadi sudah ada di situ? Apa ia melihat Lea yang menguap lebar berkali-kali tanpa menutup mulut? Apa ia terlihat terlalu duduk gagah di mata Grey? Apa ia saat ini terlihat cantik? Apa rambutnya tidak berantakan? Apa bedak tipisnya luntur dan bibirnya terlihat seperti orang mati karena polesannya sudah terhapus? Otaknya cukup kacau memikirkan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.
Mereka sempat bertemu pandang tadi. Grey memang sempat kaget. Saat ia baru saja ingin memberi senyum terbaiknya, gadis itu menunduk, membiarkan poni tanggungnya menutupi matanya dan rambut coklatnya menjuntai menutupi setengah wajahnya. Grey cukup merasa shock dengan reaksinya. Mungkinkah gadis itu pada dasarnya membencinya hingga tak pernah sekali pun ia bicara basa-basi padanya? Memikirkan satu pertanyaan itu saja, cukup membuat perasaannya kacau.
Grey diam di tempatnya, masih berpikir. Ia menatap ke sekeliling, di sekitar sana hanya ada mereka berdua, setidaknya yang saling mengenal. Kemudian ia menatap langit yang menampakkan awan putih agak kelabu melapisi biru langit tanpa matahari.
Kau memberikanku kesempatan sekali lagi. Kurasa kali ini sebaiknya kugunakan dengan sungguh-sungguh, ia bicara pada Tuhan dalam hati. Ia duduk di samping Lea.
Ada udara yang membatasi mereka. Lea mengambil ponselnya memasangkan ujung kabel headset-nya pada teknologi tersebut. Ia terlalu canggung, kaku, dan malu. Seharusnya itu kesempatan yang baik untuk bisa lebih saling mengenal dengan Grey. Tapi jantungnya sulit diajak kompromi. Jantungnya terus berdentum keras tanpa henti. Satu-satunya yang bisa membuatnya tenang walau sedikit adalah musik. Jadi ia memasangkan headset ke telinganya, meski hanya di telinga kanannya. Telinga kirinya ia biarkan bebas untuk mengamati suara dari gerak-gerik laki-laki di sebelahnya.
Grey agak shock melihat reaksi Lea yang langsung menggunakan headset-nya setelah menyadari kehadirannya. Apa gadis itu memang membenci dirinya? Apa Lea tidak mau bicara dengannya? Grey ingin memastikan dengan menelisik wajahnya, tapi sayang wajah cantik itu agak tertutupi oleh rambutnya sebab Lea agak menunduk. Grey menghela napas kemudian merogoh tasnya untuk mengambil novel yang sedang dalam proses penamatan untuk dibaca. Ia berharap Lea melihat itu dan dapat menarik perhatiannya. Setidaknya novel yang ia baca adalah novel fantasi.
Orang jatuh cinta memang sering aneh. Lea sulit bernapas. Bukan karena ia lupa bagaimana cara bernapas. Hanya saja ia takut kalau-kalau suara napasnya terdengar. Ia takut kalau-kalau suara napasnya aneh dan membuat Grey merasa semakin tidak ingin bicara dengannya. Ia takut kalau-kalau suara jantungnya yang tak sanggup dibendung itu terdengar seperti seorang maniak yang terlalu bergairah.
Di balik rambutnya, ia melirik Grey. Celah antara helai-helainya menampakan Grey sedang serius menenggelami buku yang ia baca. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Matanya yang kecil seakan melekat pada lembar halaman yang ia baca. Manis sekali menurut Lea. Lea berniat untuk menikmati pemandangan itu sampai waktu akan memisahkan mereka hari ini. Hingga pada akhirnya ia sadar apa yang sedang dibaca oleh Grey.
"Serpent's Shadow!" Lea berseru dengan suara pelan.
Meski suaranya pelan, Grey bisa mendengar jelas sekali seruan itu. Anggap saja kekuatan cinta. Grey tersenyum, sebisanya ia mengulum senyum itu agar tidak terlihat terlalu senang. Siasatnya untuk menarik perhatian Lea berhasil.
"Ma-maaf. Lanjutkan saja membacamu," Lea membuang muka. Ia menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rasa malunya. Ia menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang panas yang terpesona oleh senyum simpul yang diberikan Grey.
"Nggak apa-apa. Aku nggak merasa terganggu. Cuman kaget saja mendengarmu tiba-tiba berseru," Grey berucap. Di dalam hatinya ia menenangkan dirinya sendiri agar tidak terdengar gugup. Yah, ia berharap suaranya tidak terdengar menyedihkan.
Sempat keheningan kembali mengambil alih. Bahkan musik yang masuk ke telinga Lea tak terdengar lagi. Ia gugup. Ia bingung harus bicara lagi. Secanggung-canggungnya ia terhadap laki-laki, tidak pernah ia kehilangan kata-kata seperti ini.
"Suka baca karya Riordan juga, ya?" pada akhirnya Lea mulai kembali bicara.
"Uhm.. Novelis jenius kurasa. Aku suka gaya tulisannya. Ceritanya juga menakjubkan. Nggak kalah sama Harry Potter," Grey sebisanya bicara banyak agar percakapan itu tak terputus.
"Aku sama sekali belum pernah membaca Harry Potter atau pun menonton film-nya."
Pernyataan Lea yang terdengar jujur dan polos itu membuat Grey tak mampu menahan tawanya. Manis sekali gadis itu dalam pikirannya. Dan Lea amat sangat terpesona oleh wajah yang saat ini menampakan bibir yang terkembang, memperdengarkan suara tawa yang renyah.
"Ah maaf. Aku nggak bermaksud menertawakanmu. Cuma untuk gadis yang suka membaca novel fantasi sepertimu tidak pernah tahu cerita Harry Potter, hal itu cukup mengejutkanku—"
Grey segera menutup mulutnya. Ia merasa sudah terlalu banyak bicara. Ia takut Lea akan menganggapnya aneh sebab tahu hobi gadis itu padahal mereka bicara saja bisa dibilang tidak pernah sama sekali kecuali hari ini. Ia tidak bisa menerka isi hati Lea, sebab gadis itu lagi-lagi menunduk, merapatkan tangannya yang terlipat di bawah dada.
Lea menunduk karena sudah pasti wajahnya saat ini amat sangat merona. Jantungnya saja lebih cepat berdetak melebihi sebelum-sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa senyum lebar Grey amat sangat memesona. Suaranya yang renyah seakan-akan menghipnotisnya, memperdayanya agar semakin tertarik padanya. Dan terlebih lagi, Grey tahu hobinya. Entah darimana pria itu tahu, yang pasti itu menjadi sebuah kehormatan bagi Lea.
"Mau bagaimana lagi. Dulu aku benci baca novel tebal. Aku juga nggak suka nonton film. Lagian Harry Potter kan ada sejak jaman SD dulu," Lea kembali bicara. Suaranya yang hampir pecah itu jelas sekali menunjukan bahwa ia sedang malu. Bahkan Grey saja bisa mengerti hal itu.
"Nggak mau coba baca sekarang?"
"Nggak. Meski aku suka membaca, kadang aku juga malas membaca novel setebal itu. Lagian kesannya jadi ketinggalan jaman. Jadi... Yah, aku nggak tertarik sama Harry Potter."
"Kalau ini?"
"Iya, aku suka. Aku suka karya Riordan yang lain. Percy Jackson, kan? Aku tahu sebelum serialnya dijadikan film. Saat film-nya keluar, tahu-tahu banyak yang membahasnya. Rasanya agak kesal juga."
"Rasanya kayak ada yang merebut pacarmu, kan? Kayak rahasiamu tiba-tiba terbongkar," Grey berceletuk. Ia merasakan hal yang sama. Bukan dalam hal buku, tentu saja. Kasusnya lain. Ia merasa seperti itu kalau ada orang lain yang memandang Lea dalam sudut pandang yang sama dengannya.
Baru sekali itu Lea melihat Grey menatap lurus dirinya. Matanya abu-abu perak. Indah sekali, membuatnya entah untuk berapa puluh kalinya terpesona pada laki-laki itu hari ini.
"Kau benar," lagi-lagi Lea memalingkan wajahnya. "Ngomong-ngomong, Serpent's Shadow kapan keluar?"
"Minggu lalu aku ke toko buku, ini sudah ada di sana. Kau belum baca?"
"Aku nggak tahu kalau sudah terbit."
"Oh, begitu. Seru, lho. Ceritanya—"
"Stop! No spoiler, oke?" Lea segera menghentikan Grey bicara.
Meski ia bilang begitu, kelihatan sekali dari wajahnya bahwa ia amat sangat penasaran. Matanya tak bisa lepas menatap novel yang Grey pegang. Spasi antara alisnya berbuku-buku untuk menahan rasa penasarannya. Mulutnya menggerutu kecil, menyuruh dirinya sendiri untuk bersabar. Grey tak bisa menghentikan dirinya untuk memerhatikan gadis di depannya itu. Terlalu cantik, terlalu manis. Ia tidak se-cool kelihatannya. Sekali lagi ia jatuh cinta pada Lea.
Sejak tadi Lea hanya penasaran pada isi cerita novel yang sedang dipegang oleh Grey sampai-sampai matanya lekat sekali memandangi buku tebal itu. Hingga pada akhirnya matanya tak sengaja saling bertemu dengan kedua iris milik Grey. Ia akhirnya sadar laki-laki itu terus menatapinya. Rasanya malu. Jangan-jangan Grey mulai menganggapnya sebagai gadis yang aneh.
Pikiran itu segera ia singkirkan. Ia lalu kembali duduk, berusaha terlihat tetap tenang. Ia lalu melepaskan headset-nya. Tidak ada gunanya lagi menggunakan benda itu. 'Toh musik saat ini tak mampu lagi membuatnya merasa tenang.
Untuk beberapa saat tadi kecanggungan di antara mereka berdua sempat menghilang. Dan dinding tak kasat mata di antara mereka sempat melebur dengan udara. Tapi ketika keheningan kembali menyeruak di antara ruang mereka, dinding itu kembali memadat. Seakan-akan tak pernah terjadi percakapan singkat tadi. Keduanya hanya saling menunduk, menenangkan hati yang meledak-ledak. Keduanya sibuk mencari topik pembicaraan lain untuk meleburkan kembali dinding yang membatasi keduanya.
Saat angin menyapa, keduanya mencuri waktu yang sama untuk melirik satu sama lain. Mata keduahya bertemu, membuat mereka refleks kembali membuang muka. Tangan Grey berkeringat dingin, begitu juga dengan Lea. Perasaan hangat itu mulai menjadi-jadi di dalam diri mereka. Rasanya terlalu bahagia sampai-sampai ketukan-ketukan di dada membuat mereka ingin muntah, meluapkan semua perasaan yang bergejolak semakin tak terkontrol.
"Aku... Kupikir kau membenciku," Grey kembali bicara.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Sebab kau tidak pernah mengajakku bicara."
"Kupikir kau yang nggak suka padaku. Aku hanya tidak bisa memulai pembicaraan. Bukan berarti aku membencimu."
"Sama. Aku juga nggak membencimu. Kau tahu aku bagaimana, kan?"
"Iya, aku mengerti, kok. Cuman kadang kau bisa menyapa teman-teman cewek-mu. Tapi kalau padaku, kau sama sekali nggak pernah menunjukan suaramu," Lea tertawa kecil, berharap tawa itu tidak terlihat menyedihkan. Tapi Grey dapat menangkap perasaannya.
"Nggak, bukan begitu. Aku tidak terbiasa dengan cewek. Tapi karena mereka sering dekat denganku, jadi aku bisa menyapa mereka. Kalau denganmu aku... Kan kubilang kupikir kau membenciku. Lagipula aku... Gugup," kalimat terakhirnya terdengar pelan sekali. Apalagi Grey memalingkan wajahnya sembari menutup mulutnya dengan lengan.
Tampan dan amat sangat manis reaksinya bagi Lea. Pria itu pasti salah satu karya Tuhan yang paling sempurna menurutnya. Kalimat terakhirnya itu tadi agak samar terdengar oleh Lea. Meski ia tidak yakin apa benar Grey tadi mengatakan gugup terhadapnya atau tidak, entah kenapa hal itu membuatnya senang.
"Nggak apa-apa. Ternyata ada kesalahpahaman di antara kita selama ini meski kita nggak pernah saling bicara," Lea agak tertawa geli mengetahui kenyataan itu. Hati Grey kembali berdesir melihat manisnya bibir ranum itu ketika tersenyum. Rasa-rasanya perasaannya meluap dan tak sanggup dibendung lagi.
"Anu, aku sebenarnya..."
"Grey!" panggilan yang terdengar tak jauh dari pintu gedung kampus menginterupsi mereka. Grey berdecak kesal dalam hatinya. Ia benar-benar menyumpahi teman-temannya itu. Tadi mereka membuatnya menunggu lama, kali ini datang di waktu yang tidak tepat. "Maaf, kau jadi lama menunggu kami," ia berucap bahkan tanpa merasa bersalah.
"Dasar sialan. Kalian hari ini benar-benar membuatku emosi."
"Ah, Collins. Kau sedang apa di sini?" yang berambut jingkrak bertanya pada Lea tanpa menghiraukan kekesalan Grey.
"Menunggu jemputan," jawab Lea. Tapi matanya masih tak mau lepas memandang Grey. Ia masih belum puas.
"Mau kuantar pulang saja?"
Tawaran itu membuat Lea dan Grey sama-sama terkejut. Lea agak tersanjung akan tawaran itu, tapi ia takut kalau-kalau Grey akan salah paham. Meski ia tak tahu apakah Grey peduli akan hal itu atau tidak. Sedangkan dalam hati Grey sendiri ia berdoa agar Lea menolak tawaran itu.
"Passed. Sebentar lagi jemputanku datang. Thanks tawarannya."
Diam-diam Grey merasa lega dengan tolakan itu.
"Ya, sudah. Kami pulang duluan, ya. Ayo, Grey," si rambut jingkrak tadi merangkul leher Grey, berusaha menariknya. Tapi Grey bertahan sebentar, ingin mengucapkan salam pamit pada Lea.
"Ng... Collins...," Ia agak canggung memanggil nama Lea. Jantung Lea juga hampir copot mendengar namanya tiba-tiba keluar dari mulut Grey.
"Panggil Lea saja."
"Ahh... Ng... Lea. Sampai jumpa besok," Grey mati-matian menahan rasa malunya hanya untuk mengucapkan salam itu.
"Bye...," Lea juga tak kalah mati-matian menahan rasa malunya hanya untuk mengucapkan satu kata itu.
Ketika keduanya semakin menjauh, percakapan beberapa saat tadi bagaikan mimpi bagi mereka. Saat keduanya tak dapat saling menelisik, ada desir kesepian di diri mereka. Pada hati Grey, juga pada hati Lea.
-o0o-
Hari berikutnya Tuhan kembali mempertemukan mereka. Di sebuah lorong kampus, langkah mereka saling berselisih. Ketika mata bertemu mata, euforia bergejolak memacu darah mengalir cepat. Mata mereka sempat saling menghindari. Satu langkah... Dua langkah... Kemudian ketika langkah mereka saling bersinggungan, tak ada suara yang saling menyapa. Hanya dua pasang bola mata saling berisyarat diiringi dengan senyum canggung di wajah mereka. Langkah berikutnya ketika saling bersilangan, mereka menunduk menyembunyikan rona masing-masing, menahan diri untuk tidak menari kegirangan.
Tak ada suara ketika mereka saling bersinggungan kecuali suara kegirangan yang menjerit-jerit dalam diri keduanya. Dalam langkah yang sunyi, tertinggal jejak-jejak suara hati. Ada dua sulur cinta yang semakin tumbuh di antara langkah mereka yang diam, menunggu saling bertautan, hingga mereka merekahkan kembang ketika kedua sulur saling bersatu.
-o0o-

Read More

Sabtu, 25 Mei 2013

Cerita Malam

                                                                Cerita Malam
                                                                    Firdausi R.

Sudah cukup larut. Aku memandangi hamburan cahaya dari atas bukit kota tempat aku tinggal sembari bersandar pada Tiger yang diparkir begitu saja mendekati tebing. Hembusan angin malam kadang-kadang menyapa, mengajak rambut yang kuurai menari di atas udara. Mataku kadang beralih dari hamburan cahaya kota menuju pada laki-laki yang sedang berdiri di dekat tebing sembari memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana chino pensil yang ia kenakan. Kadang-kadang bahunya mengerut ketika angin kembali menyapa  lagi.
 
Ia yang mengajakku pergi berdua malam ini ke sini. Sudah cukup lama kami saling tidak bertemu. Mungkin terakhir kali aku melihatnya tiga bulan yang lalu, ketika aku mengajaknya bertemu. Tempat kuliah kami  memang berbeda. Itu sebabnya aku senang ketika ia mengajakku bertemu malam  ini. Aku merindukannya, sungguh.
 
Sekali lagi hembusan angin malam permisi lewat, menyentuh pipiku. Kali ini aku mulai merasa kedinginan hingga tak sadar mengerutkan bahu, menjaga suhu tubuh agar tidak pergi. Sebuah jaket kulit kemudian tertaut di punggungku. Laki-laki itu berdiri di sampingku, menyandar pada Tiger miliknya. Poni shaggy-nya melambai-lambai menghiasi senyuman lembut yang tertaut di wajahnya.
 
“Dingin, ya, Re,” ujarnya setelah lama kami  hanya membenamkan diri dalam keheningan malam ini.
 
“Gitu, deh,” jawabku sekenanya, agak tidak sanggup menahan euforia ketika melihat senyumnya. 
“Tumben kau ngajak aku pergi. Bukannya sibuk sama kuliahmu?”
 
“Memangnya tidak boleh kalau aku kangen padamu?” ia masih menunjukkan senyum yang sama lalu melingkarkan lengannya di leherku. “Dingin...”
 
Seketika tangan itu mengalirkan kehangatan yang sampai pada hati yang hampir mengering. Aku merindukan tangan itu. Kehangatan yang sama dan senyum menyegarkan yang sama.  Kelakarnya yang kadang-kadang keluar juga tidak pernah berubah. Tapi sorot matanya menerawang, seakan-akan jiwanya sedang berada di tempat lain. Sekelebat rasa cemas hinggap di punggungku. Aku menunduk, menjatuhkan mata pada tangan yang berkali-kali kukepal dan kulemaskan untuk menghilangkan rasa cemas itu, tanpa sadar membawa kembali pada kenangan-kenangan  dulu; bagaimana kami mertemu dulu, bagaimana kemudian kami bisa bersama.
                                                                     -o0o-

Aku kenal dengannya sudah lama, bisa dibilang akrab. Tapi keakraban itu hanya terjalin di jejaring sosial. Aku sama sekali tidak tahu sosoknya, hingga pada akhirnya setelah beberapa bulan berbicara lewat facebook, aku baru tahu kalau ia satu sekolah denganku. Aku memang bukan orang yang suka bergaul, mencari teman ke sana kemari. Aku lebih senang membenamkan diri di balik selimut dalam kamar, mengutak-atik website pribadi, atau membaca buku, atau kadang meneruskan hobi yang tak didukung bakat; menulis. Makanya, aku  sama sekali tak tahu bahwa ia satu sekolah denganku padahal sudah cukup lama aku sekolah di sana.
 
Namanya Sean. Agak sedikit apatis, tapi cukup punya teman yang banyak. Yang kutau beberapa siswi pernah jadi penggemarnya. Dia bukan tipe laki-laki tampan. Tapi wajahnya manis dengan kulit putih susu dan mata agak sipit meski ia pernah bilang padaku bahwa ia sama sekali tidak punya darah oriental. Badannya agak tinggi tapi tidak terlalu semampai untuk ukuran laki-laki. Tapi tidak banyak penggemarnya itu beralih menjadi tidak suka padanya. Yaahh, mungkin hanya sekedar mengagumi wajah manisnya saja sebab pada dasarnya sifatnya yang suka menolak siapa yang datang dan sikap acuh tak acuhnya membuat orang sering kesal padanya.
 
Aku tidak tahu fakta yang sebenarnya tentang dirinya. Tapi melalui chat di facebook, kupikir dia tidak seperti itu. Omongannya memang kadang tidak masuk akal; berbicara tentang mitologi dan semacamnya. Tapi aku suka, sebab sedikit banyak aku juga senang berfantasi tentang hal-hal gaib mitologi. Candaannya cukup membuatku terhibur. Kurasa pada dasarnya ia orang baik yang hangat. Dan kadang-kadang ia senang berbicara tentang cinta, tentang orang yang ia pikirkan, meminta nasihatku, dan  bicara banyak hal lainnya.
 
Dua tahun kemudian ketika aku duduk di kelas 3 SMA, salah satu teman baikku memperkenalkan kekasihnya. Aku cukup terkejut, karena yang berdiri di sampingnya adalah Sean. Aku sama sekali tak pernah bicara sekali pun dengannya. Seandainya pun bertemu, kami saling menghindari tatapan mata, berpura-pura saling tak mengenal. Jadi ketika kami dipertemukan tiba-tiba, ada kecanggungan yang merambat di punggungku. Kurasa ia juga merasa begitu. Tapi pada akhirnya ia tersenyum  ringan.
 
“Baru kali ini kita bicara langsung, ya,” ujarnya. Masih sedikit kurasakan kecanggungan dari cara bicaranya, tapi ia berusaha keras untuk mencairkan suasana.
 
“Eh?” temanku itu bergumam tak mengerti.
 
“Aku sudah lama kenal dengannya. Berkat nasihatnya, aku bisa jadian denganmu, lho,” Sean berkata ditimpali cengirannya.
 
“Eh, benar begitu, Re?”
 
“Yaa... begitulah. Siapa sangka cewek yang dia bicarakan sambil nangis minta pendapatku itu kau,” ujarku melirik Sean ingin menggodanya.
 
“Aku nggak pernah nangis sampai segitunya minta pendapatmu, tau!” sanggahnya. Ada semu merah di wajahnya waktu itu.
 
“Emot-mu bilang begitu,” aku membalas sanggahannya dengan senyum kemenangan.
 
Saat itu kecanggungan sudah melebur dengan udara hangat keakraban yang kami jalin dari jejaring sosial. Viesta, temanku itu, melerai pertengaran kecil itu dengan senyum  kebahagiaan.
                                                                 -o0o-

Hubunganku dengan Sean tak pernah berubah setelahnya. Mungin memang lebih akrab sebab selain melalui jejaring sosial,  secara langsung pun kami sering bertemu. Tentu saja ada Vie di antara kami. Beberapa bulan setelahnya, Sean mulai sering mengajakku bertemu tanpa ada Vie. Bukan kencan, tentu saja. Ia hanya bercerita tentang keluh kesahnya dan aku hanya dijadikan tempat sampah hatinya. Mungkin bisa dibilang ia menganggapku teman laki-laki-nya. Padahal untuk ukuran cewek tomboy, aku tidak termasuk di dalamnya.

“Vie marah lagi denganku,” matanya menerawang pada kaleng minuman soda yang ia putar-putar tanpa alasan.
 
“Kau bikin masalah apalagi?” aku meletakkan siku pada meja rumah makan tempat kami bertemu untuk menopang dagu.
 
“Nggak tau. Dia marah  terus ngomong, cari tahu sendiri saja sana kesalahanmu, bodoh!” Sean mengikuti persis gaya Vie ketika marah, membuatku tak bisa menahan tawa. “Cewek memang suka begitu, ya. Aku nggak tahu salahku, makanya aku nanya, kan.”
 
“Kayak  gitu, kan, biar kamu bisa instropeksi diri.”
 
“Aku lelah sama kemarahannya yang nggak ada dasarnya begitu. Aku capek nanggapinnya.”
 
“Tapi kau cinta dia, kan?”
 
“Sangat...” sebuah senyum tulus yang pasrah terkembang dari bibirnya, membuat hatiku cukup terenyuh.
 
Aku cukup sadar bahwa prasaanku kepadanya sudah mulai berubah. Ada bibit yang ia tanamkan tanpa sengaja dalam hatiku. Ada angin kelembutan yang ia tiupkan melalui celah di hatiku. Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya di dekatku, membuatku ingin memonopolinya. Hanya saja aku juga cukup punya kesadaran bahwa  hatinya teah dimiliki orang lain. Setidaknya aku hanya ingin ia tetap bergantung padaku.
 
“Selingkuh saja, deh, sana. Daripada capek mikirin Vie,” aku mengatakannya setengah bercanda dengan tawa khasku.
 
“Denganmu?”
 
“Boleh, deh,” kupikir ia bercanda, jadi kuiyakan dengan ringan. Tapi kusadari tatapan matanya tajam menembus diriku. Lalu sebuah senyum yang sulit kuartikan terpampang di wajahnya.
 
“Aku juga nggak keberatan, sih, kalau itu kau. Biar kuanggap kau pacar keduaku, deh,” bicaranya terdengar bercanda dengan kekehannya.
 
“Nggak masalah buatku, sih. ‘Toh aku juga lagi senggang. Anggap saja aku kekasihmu kalau kau lagi galau gara-gara Vie, ya,” aku membalas senyumannya itu tanpa niat ada keseriusan yang terucap dari bibirku.
                                                                      -o0o-

Kupikir semua pembicaraan tentang perselingkuhan itu hanya candaan di antara kami. Tapi setelah itu Sean lebih sering memintaku bertemu tanpa ada pembicaraan tentang Vie di  antara kami. Sampai pada akhirnya bergandengan tangan dan saling mengecup bibir adalah hal yang sangat wajar ketika kami bertemu. Memang tidak ada kepastian tentang hubungan kami. Apakah memang aku dijadikan  objek untuknya melakukan affair atau ini hanya keisengannya semata. Aku tidak peduli. Meski kadang keragu-raguan merayapi, tapi kebahagiaan yang mengalir terus menumbuhkan bibit yang ia tanam tanpa bisa mati oleh parasit keraguan itu.
 
Kami kemudian lulus dari bangku sekolah. Sean dan Vie masih saling menjalin hubungan meski sedikit terlihat hambar di mataku. Sean dan aku memilih perguruan tinggi di kota ini meski berbeda universitas. Sedang Vie mengambil kuliah di negeri orang, Sidney, Australia. Kesepian hati Sean membuatnya semakin sering menjadikanku sebagai objek pengganti Vie. Ia terus memperlakukanku layaknya seorang kekasih. Tapi tak sekali pun ia menyatakan cinta padaku. Aku tidak peduli, asal ia terus berada di sampingku.
 
Hingga pada akhirnya ada suatu waktu ketika Sean datang padaku dengan tatapan hampa. Seakan-akan ada beban yang begitu berat yang ia tanggung, membuat punggungnya terlihat kuyu. Ketika aku memanggilnya, tak ada reaksi yang ia ucapkan. Ia terus berjalan kearahku, kemudian meletakkan dahinya di bahuku. Aku membawanya duduk di sofa dan menunggunya berbicara. Setelah cukup lama kami diam dalam keheningan, pada akhirnya ia mulai membuka mulut.
 
“Re, aku... aku putus dengan Vie.”
 
Rasanya aku ingin berteriak kegirangan pada saat itu. Tapi senyum Sean yang amat sangat dipaksakan itu membuatku ragu untuk merasakan euforia yang mengalir dalam tubuhku. Ada suatu kontradiksi yang membuat jantungku terasa nyeri saat berdetak.
 
“Kenapa kalian putus?” aku berusaha bertanya tanpa nada gembira.
 
“Aku yang memutuskan dia,” ujarnya lirih membuatku berseru kaget. “Aku nggak sanggup, Re. Aku capek dengan hubungan kami. Aku capek dengan sikap Vie yang semakin lama semakin cuek padaku. Makanya kupikir kami butuh jarak, hingga kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami,” ia mengeluarkan semua emosinya dengan nada tinggi saat bicara. “Tapi pada akhirnya... aku yang merasa sakit begini,” Sean merenggut rambutnya. Ia membenamkan wajahnya. Aku tahu setetes air mata telah jatuh di pipinya.
 
Yang bisa kulakukan hanya membawa Sean yang rapuh itu ke dalam dekapanku. Hatiku hancur melihatnya tak berdaya. Hatiku nyeri melihat bahwa kenyataannya Sean amat sangat mencintai Vie. Aku padahal tahu bahwa sama sekali tak ada aku di antara dunia Sean dan Vie. Aku sudah tahu itu sejak lama, sejak kupikir memang mereka adalah pasangan yang serasi. Aku marah pada diriku yang tak bisa tegas terhadap perasaanku. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa pasrah pada bunga-bunga yang tak berhenti bermekaran di dalam hatiku. Hingga pada akhirnya kubiarkan duri-durinya terus membuat rasa nyeri yang tak pernah berakhir.
                                                                          -o0o-

Sejak itu hubunganku dengan Sean tak pernah berubah. Kehadirannya dalam kehidupanku adalah hal yang biasa. Ia sudah menjadi bagian dari hidupku meski tak satu pun dari kami mengatakan cinta atau pun suka. Aku tahu Sean mencintai Vie hampir melebihi hidupnya. Tapi sikapnya yang memperlakukan aku layaknya kekasih itu sama sekali tak pernah berubah. Bahkan semenjak itu tak sekali pun Sean menyebut-nyebut nama  Vie. Aku pun tak punya niat untuk menggali lagi 
kenangannya bersama teman baikku itu.
 
Aku tahu kau cinta pada Sean dan ia memperlakukanmu sebagai kekasihnya. Tapi apa kau nggak merasa kalau dia masih sayang pada Vie? Apa nggak sebaiknya kau hentikan hal itu? 
Seorang sahabatku pernah menasihatiku begitu. Tapi kubilang, mungkin memang begitu. Tapi kurasa pada akhirnya Sean bisa melupakannya dan berpaling padaku.
 
Naif memang. Tapi setiap kali aku melihat tatapannya yang begitu lembut padaku, setiap melihat senyumannya yang tulus padaku... kurasa bukan hanya delusiku. Kurasa memang pada akhirnya Sean melihatku sebagai wanita yang diinginkannya. Kurasa memang pada akhirnya begitu. Tapi pada akhirnya keragu-raguan oleh logika sering muncul menghancurkan harapanku, menyadarkan kenaifanku.
 
Aku semakin menggenggamkan tanganku, berusaha mempertahankan kekuatan hatiku yang mulai lemah. Tubuhku agak gemetar, membuat Sean yang masih merangkulku sedikit terusik.
 
“Re, kau nggak apa-apa?” ia bertanya khawatir, membuyarkan lamunanku.
 
“Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa,” jawabku, setengahnya meyakinkan diri sendiri.
 
“Begitu...”
 
Aku mencuri pandang pada Sean. Matanya masih tak bosan memandangi  kerlap-kerlip lampu kota dinaungi langit yang masih terlihat kemerahan akibat polusinya. Tapi di sana kulihat terselip kekosongan, sebuah keresahan yang mengusik hatinya. Jantungku mulai terasa nyeri kembali ketika ia memompa darah ke seluruh tubuh. Aku yakin ada yang salah padanya. Firasatku buruk. Tapi penasaran membuatku tak bisa membungkam mulutku.
 
“Kau kenapa, Sean? Ada yang kau pikirkan?”
 
Ia menoleh padaku agak terkejut. Lalu ia menghela napas dan memberiku sebuah senyum ambigu yang sedikit menyiratkan kesedihan. Lengan yang ia rangkulkan di bahuku ia lepaskan, kemudian kembali mengambil posisi berdiri di depanku, di tepi tebing. Punggungnya terlihat jauh seakan-akan ia akan pergi meninggalkanku. Sekali lagi ketukan keras di dadaku membuatku sulit mengambil oksigen.
 
“Vie...” ia lama menggantungkan kalimatnya. Sudah lama aku tidak mendengar nama wanita itu terucap dari bibirnya. “Kemarin aku bertemu dengannya. Dia baru pulang dari Sidney seminggu yang lalu. Nggak ada yang berubah darinya, Re... Nggak. Dia berubah. Dia makin cantik di mataku,” sebuah senyum penuh kerinduan yang ia tampakkan menyayat hatiku.
 
“Terus?” aku berusaha bertanya tanpa mengikuti naluri kecemburuanku, berusaha bertanya dengan nada yang tak terdengar ketus.
 
“Aku bisa lihat dari matanya kalau dia masih punya perasaan padaku. Aku juga nggak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku... masih sayang pada Vie.”
 
Kalimatnya seperti hantaman keras yang berusaha membuatku tak sanggup berdiri lagi. Tapi aku masih bisa berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan diri.

“Sean. Selama ini aku penasaran, kau anggap aku ini apa? Temanmu? Pacarmu? Selingkuhanmu? Atau bahkan hanya selingan selama hatimu terasa sepi?” aku bertanya. Mungkin sedikit terdengar dingin. Tapi kububuhkan senyu tulus di akhir kalimat itu. “Aku... jujur saja, aku serius cinta padamu.”
 
Sean sempat terdiam dengan wajah shock. Tapi pada akhirnya kekakuan wajahnya memudar tergantikan oleh senyum simpul dengan buku-buku di antara alisnya yang cukup tebal. Ia kembali memunggungiku, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Sekali pun aku nggak pernah menganggapmu selingan. Kau berharga bagiku, Re,” ujarnya kemudian kembali berbalik memandangku. “Aku cinta padamu. Tapi aku juga tak bisa melepaskan diriku dari Vie. Sekali pun hatiku terbagi dua, ruangan untuk Vie lebih besar dibandingkan milikmu, Re. Makanya kuputuskan untuk kembali pada Vie. Aku sudah nggak sanggup untuk menyakitimu lebih dari ini. Maaf, Re,” buku-buku antar alisnya semakin dalam.
 
Aku tahu ia berat untuk mengatakan hal itu meski hatiku pun hampir tak mampu menelan bulat-bulat kalimat darinya. Rasanya ingin muntah, mengeluarkan semua kesedihan dan rasa sakit akibat duri yang telah menjadi racun. Bunga-bunga itu tetap bersikeras menumbuhkan cabangnya meski tanah tempat ia tumbuh selama ini hanyalah ilusi semata.
 
Aku berusaha tetap tenang, sebisanya membendung air mata yang ingin meledak. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menatap Sean dengan senyum yang kuharap tak terlihat terlalu dipaksakan.
 
“Sudah cukup. Aku sudah puas mendengar pernyataanmu. Setidaknya aku nggak dianggap cuma selingan bagimu. Aku senang mendengar perasaanmu. Sejak awal aku tahu kalau separuh napasmu adalah milik Vie, Sean. Aku hanya berusaha meyakinkan diri kalau napas itu bisa kucuri dari Vie. Pada akhirnya aku tetap kalah. Aku terlalu naif.”
 
“Maaf, Re...”
 
“Nggak. Nggak perlu minta maaf. Anggap saja pernyataanku itu nggak pernah ada. Aku nggak mau merusak persahabatan kita, Sean. Kita tetap bisa berteman seperti biasa, kan? Ya, Sean?” setengahnya aku benar-benar memohon padanya. Ia sempat terdiam kesulitan. Tapi pada akhirnya ia tersenyum pasrah.
 
“Ya sudahlah kalau kau maunya begitu.”
 
“Sudah larut dan udara juga semakin dingin. Antarkan aku pulang, ya. Untuk terakhir kalinya malam ini, antarkan aku sebagai kekasih-mu.”
 
Sean hanya mengangguk. Ia kemudian menunggangi Tiger kesayangannya. Aku duduk di belakangnya. Tanganku erat merangkul pinggangnya.
 
Ini yang terakhir. Malam ini yang terakhir. Punggung kecil yang bidang yang terasa hanga, pinggang dengan bidang perut yang terasa kencang, aroma parfum khas miliknya, malam ini adalah waktu terakhirku untuk memiliki semua itu.
 
Angin begitu kencang menerpa wajahku, membawa air mata yang pada akhirnya tak bisa berhenti berderai. Punggung Sean basah, kurasa ia sadar bahwa aku menangis. Tapi ia diam saja. Aku pun diam saja. kami berpura-pura tak tahu apa pun. Dalam diam dengan desiran angin malam ini, kuharap angin itu bisa membawa pergi serta perasaan sakit ini, sama seperti ia menyapu pergi air mata dari pipi yang terasa lembab.
                                                                            -o0o-
Read More

Minggu, 03 Maret 2013

Someday We Will Be Out Of Neverland


Someday We Will Be Out Of Neverland
Oleh Firdausi R.

Seperti Tinkerbell, hanya berdiam diri dengan cinta yang dirasakan. Seperti Tinkerbell, hanya menjerit tak bersuara dalam genggaman perasaan sepihak yang  disembunyikan. Seperti Tinkerbell, aku bertahan dalam lara di sampingnya. Karena seperti Tinkerbell, ia adalah Peterpan bagiku, kehadiranku ada karena kepercayaannya padaku.
-o0o-
Read More