Tampilkan postingan dengan label hurt. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Harapan di Persimpangan


Ada yang mengatakan, setialah pada harapanmu. Tapi sampai kapan kita harus setia pada harapan? Sampai mati kah? Sampai harapan itu nyata kah? Tapi seandainya harapan yang selama ini ditunggu sesungguhnya tak pernah ada, sampai kapan kita harus setia, sedang kita tak tahu apa harapan itu sungguh ada atau sebatas fantasi belaka?

Ia tahu tentangmu dulu hanya sebatas wajah. Lalu nama dan pada akhirnya setelah satu dan hal lain sebagainya yang telah terjadi, ia mulai mengenalmu, saling bertegur sapa lewat jejaring sosial, hanya sebatas itu. Waktu terus bergulir kemudian mempertemukan kalian. Pada satu dua kali pertemuan itu, ada harapan yang tertanam di hatinya. Ada pintu yang sedikit mulai sedikit terbuka untuk cahaya masuk. Ada ruangan untuk menampung sikap dan kata-kata manismu padanya.

Ia terus menunggu, tapi kau tak kunjung datang. Yang bertandang hanya kata-kata manis darimu. Tapi apa yang ia harapkan tak pernah datang. Hingga akhirnya kau mengambil jalur yang berbeda, meruntuhkan apa yang telah ia bangun. Telah layu dan sekarat apa yang telah tumbuh di hatinya, menjadi parasit yang menimbulkan rasa sakit setiap ia mengingat kenangan yang terpatri di otaknya.

Ratusan hari dan ribuan jam telah mengalir. Rasa sakit itu masih ada tapi sedikit demi sedikit mulai mengabur. Entah ia telah terbiasa atau lelah sehingga ia lupa. Ketika ia pikir ia telah bangkit dan pergi dari persimpangan, kau kembali datang dengan sikap dan kata-kata manismu. Pendiriannya rapuh sehingga sekali lagi ia diam di persimpangan. Sekali lagi percaya pada harapan yang dulu pernah sekarat. Kembali tumbuh, terus berkembang. Harapan itu sudah semakin menjadi-jadi. Ketika ia menunggu pengharapannya menjadi nyata, kau kembali meninggalkannya, membiarkan yang telah tumbuh tak sempat memekarkan kembangnya. Sekarat sekali lagi, menimbulkan rasa sakit itu kepermukaan.

Dua-tiga kali kau datang dan pergi. Seharusnya ia tahu bahwa setia pada harapan yang kau bawa adalah tindakan sia-sia. Sesungguhnya ia tahu. Tapi perasaan itu selayaknya pohon yang mengakar pada tanah lebih dari ratusan tahun. Meski telah mati, meski telah ditebang, masih ada akar yang menancap di sana berusaha untuk tumbuh kembali meski tanah tempat ia berdiri mulai gersang. Padahal ia tahu seharusnya kau hanya menjadi bagian dari masa lalu yang hanya untuk dikenang. Tapi kenangan itu terus saja terseret pada waktu yang mengalir saat ini seakan-akan melawan arus.

Setialah pada harapanmu. Sampai kapan? Melebihi hitungan jari, ia terus bangkit dan jatuh karena percaya. Melebihi hitungan jari ia terkhianati karena setia. Sampai kapan ia harus setia seandainya harapan yang ia genggam sebenarnya tak pernah ada? Sekarang ia muak. Perih itu telah mencapai batasnya. Ada bagian dari dirinya masih percaya pada harapan yang kau berikan. Tapi kali ini ia berusaha kokoh pada pendirian yang mencoba untuk berhenti menggantungkan diri pada pengharapan yang tak pernah ada. Meski kadang perih itu membawa rindu, meski kadang kenangan itu menumbuhkan kembali tunas yang ia kubur, ia mencoba untuk percaya pada logika. Karena kata-kata manismu adalah omong kosong dan sikapmu adalah basa-basi, sesungguhnya ia mengerti bahwa pengharapan yang ia coba percayai dan setia tak pernah ada. Kali ini ia mencoba untuk melangkah lagi meninggalkan fantasinya meski kadang kenangan-kenangan dan perasaan manis-pahit itu mencoba menyandungnya dan menyeretnya kembali.
Read More

Rabu, 19 Maret 2014

Nebula Andromeda

Karena kamu terus berputar pada poros yang sama dan aku diam di satu titik dimana kita akan terus bersinggungan, waktu tak akan bisa mencair.
Padahal kamu tahu bahwa poros yang kamu kelilingi telah mati, sedangkan aku tahu menunggumu di titik kita saling bersinggungan tidak ada artinya.
Kita hanya saling menyakiti diri, berusaha menggantung pada ekspektasi-ekspektasi yang tak nyata.
Harus ada langkah yang diambil.
Entah itu dirimu yang beranjak dari pusaranmu atau aku yang harus bergerak dari titik itu,
mempertemukan kita, membuat kita bersilangan, atau bahkan tak menyatu sama sekali.  

Waktu tak mencair, tapi detiknya terus berbunyi.
Sedikit demi sedikit mencabuti sulur yang telah kupupuk untukmu.
Seharusnya aku bisa melangkah.
Tapi akarnya masih kukuh tertancap di sela-sela jantung.
Harusnya sudah terenyahkan apa yang pernah kurasakan untukmu.
Padahal kisah antara aku dan kamu, cerita tentang dia dan kau, sudah lama tidak terjamah, telah menjadi samar kabut di ingatanku.
Tapi selayaknya serpihan kaca yang pecah, seperti bayang-bayang yang tertinggal, ada yang masih terselip, meraungkan kerinduan.
Seperti setitik nila pada susu, ketika kita kembali bersinggungan, seakan-akan kamu menekan serpihan kaca, perasaan itu kembali meledak.
Selayaknya cahaya yang menguatkan gelap, bayangan itu semakin membesar, membungkusku dalam kehangatan yang lirih.
Pada akhirnya kakiku tetap memaku diri di titik fatamorgana yang kita ciptakan.  

Aku lelah untuk tetap berdiri di tempat.
Aku lelah berusaha untuk melangkah.
Aku lelah terus berpikir menjauh dari tempat kamu berputar pada poros itu.
Di sana, padahal ada poros yang menarikku untuk mengitarinya.
Tapi pada akhirnya gravitasi yang kamu timbulkan terus saja menarikku untuk tetap diam di tempat, tidak menarikku padamu, tapi tidak juga menjauhkanku.
Aku kesal, tapi pada akhirnya aku pasrah.
Kubiarkan kita terus tenggelam pada harapan-harapan yang melayang semu.
Kubiarkan kau terus sekarat, dan kamu terus membiarkan aku membenamkan diri dalam luka-luka yang kamu ciptakan, selayaknya masokis yang menikmati setiap rasa perih.
Hingga waktu akan mencair tanpa harus kamu berhenti berevolusi, tanpa aku yang harus enyah dari titik singgung.
Hingga saat kita saling bersinggungan tidak lagi menginduksi akar-akar kembali tumbuh, ketika kamu telah menemukan bintang porosmu dan aku mampu menemukan pusat kehidupanku.
Read More

Selasa, 02 Juli 2013

Satu Langkah

Satu Langkah
Firdausi R.
.
.
.
Read More

Sabtu, 25 Mei 2013

Cerita Malam

                                                                Cerita Malam
                                                                    Firdausi R.

Sudah cukup larut. Aku memandangi hamburan cahaya dari atas bukit kota tempat aku tinggal sembari bersandar pada Tiger yang diparkir begitu saja mendekati tebing. Hembusan angin malam kadang-kadang menyapa, mengajak rambut yang kuurai menari di atas udara. Mataku kadang beralih dari hamburan cahaya kota menuju pada laki-laki yang sedang berdiri di dekat tebing sembari memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana chino pensil yang ia kenakan. Kadang-kadang bahunya mengerut ketika angin kembali menyapa  lagi.
 
Ia yang mengajakku pergi berdua malam ini ke sini. Sudah cukup lama kami saling tidak bertemu. Mungkin terakhir kali aku melihatnya tiga bulan yang lalu, ketika aku mengajaknya bertemu. Tempat kuliah kami  memang berbeda. Itu sebabnya aku senang ketika ia mengajakku bertemu malam  ini. Aku merindukannya, sungguh.
 
Sekali lagi hembusan angin malam permisi lewat, menyentuh pipiku. Kali ini aku mulai merasa kedinginan hingga tak sadar mengerutkan bahu, menjaga suhu tubuh agar tidak pergi. Sebuah jaket kulit kemudian tertaut di punggungku. Laki-laki itu berdiri di sampingku, menyandar pada Tiger miliknya. Poni shaggy-nya melambai-lambai menghiasi senyuman lembut yang tertaut di wajahnya.
 
“Dingin, ya, Re,” ujarnya setelah lama kami  hanya membenamkan diri dalam keheningan malam ini.
 
“Gitu, deh,” jawabku sekenanya, agak tidak sanggup menahan euforia ketika melihat senyumnya. 
“Tumben kau ngajak aku pergi. Bukannya sibuk sama kuliahmu?”
 
“Memangnya tidak boleh kalau aku kangen padamu?” ia masih menunjukkan senyum yang sama lalu melingkarkan lengannya di leherku. “Dingin...”
 
Seketika tangan itu mengalirkan kehangatan yang sampai pada hati yang hampir mengering. Aku merindukan tangan itu. Kehangatan yang sama dan senyum menyegarkan yang sama.  Kelakarnya yang kadang-kadang keluar juga tidak pernah berubah. Tapi sorot matanya menerawang, seakan-akan jiwanya sedang berada di tempat lain. Sekelebat rasa cemas hinggap di punggungku. Aku menunduk, menjatuhkan mata pada tangan yang berkali-kali kukepal dan kulemaskan untuk menghilangkan rasa cemas itu, tanpa sadar membawa kembali pada kenangan-kenangan  dulu; bagaimana kami mertemu dulu, bagaimana kemudian kami bisa bersama.
                                                                     -o0o-

Aku kenal dengannya sudah lama, bisa dibilang akrab. Tapi keakraban itu hanya terjalin di jejaring sosial. Aku sama sekali tidak tahu sosoknya, hingga pada akhirnya setelah beberapa bulan berbicara lewat facebook, aku baru tahu kalau ia satu sekolah denganku. Aku memang bukan orang yang suka bergaul, mencari teman ke sana kemari. Aku lebih senang membenamkan diri di balik selimut dalam kamar, mengutak-atik website pribadi, atau membaca buku, atau kadang meneruskan hobi yang tak didukung bakat; menulis. Makanya, aku  sama sekali tak tahu bahwa ia satu sekolah denganku padahal sudah cukup lama aku sekolah di sana.
 
Namanya Sean. Agak sedikit apatis, tapi cukup punya teman yang banyak. Yang kutau beberapa siswi pernah jadi penggemarnya. Dia bukan tipe laki-laki tampan. Tapi wajahnya manis dengan kulit putih susu dan mata agak sipit meski ia pernah bilang padaku bahwa ia sama sekali tidak punya darah oriental. Badannya agak tinggi tapi tidak terlalu semampai untuk ukuran laki-laki. Tapi tidak banyak penggemarnya itu beralih menjadi tidak suka padanya. Yaahh, mungkin hanya sekedar mengagumi wajah manisnya saja sebab pada dasarnya sifatnya yang suka menolak siapa yang datang dan sikap acuh tak acuhnya membuat orang sering kesal padanya.
 
Aku tidak tahu fakta yang sebenarnya tentang dirinya. Tapi melalui chat di facebook, kupikir dia tidak seperti itu. Omongannya memang kadang tidak masuk akal; berbicara tentang mitologi dan semacamnya. Tapi aku suka, sebab sedikit banyak aku juga senang berfantasi tentang hal-hal gaib mitologi. Candaannya cukup membuatku terhibur. Kurasa pada dasarnya ia orang baik yang hangat. Dan kadang-kadang ia senang berbicara tentang cinta, tentang orang yang ia pikirkan, meminta nasihatku, dan  bicara banyak hal lainnya.
 
Dua tahun kemudian ketika aku duduk di kelas 3 SMA, salah satu teman baikku memperkenalkan kekasihnya. Aku cukup terkejut, karena yang berdiri di sampingnya adalah Sean. Aku sama sekali tak pernah bicara sekali pun dengannya. Seandainya pun bertemu, kami saling menghindari tatapan mata, berpura-pura saling tak mengenal. Jadi ketika kami dipertemukan tiba-tiba, ada kecanggungan yang merambat di punggungku. Kurasa ia juga merasa begitu. Tapi pada akhirnya ia tersenyum  ringan.
 
“Baru kali ini kita bicara langsung, ya,” ujarnya. Masih sedikit kurasakan kecanggungan dari cara bicaranya, tapi ia berusaha keras untuk mencairkan suasana.
 
“Eh?” temanku itu bergumam tak mengerti.
 
“Aku sudah lama kenal dengannya. Berkat nasihatnya, aku bisa jadian denganmu, lho,” Sean berkata ditimpali cengirannya.
 
“Eh, benar begitu, Re?”
 
“Yaa... begitulah. Siapa sangka cewek yang dia bicarakan sambil nangis minta pendapatku itu kau,” ujarku melirik Sean ingin menggodanya.
 
“Aku nggak pernah nangis sampai segitunya minta pendapatmu, tau!” sanggahnya. Ada semu merah di wajahnya waktu itu.
 
“Emot-mu bilang begitu,” aku membalas sanggahannya dengan senyum kemenangan.
 
Saat itu kecanggungan sudah melebur dengan udara hangat keakraban yang kami jalin dari jejaring sosial. Viesta, temanku itu, melerai pertengaran kecil itu dengan senyum  kebahagiaan.
                                                                 -o0o-

Hubunganku dengan Sean tak pernah berubah setelahnya. Mungin memang lebih akrab sebab selain melalui jejaring sosial,  secara langsung pun kami sering bertemu. Tentu saja ada Vie di antara kami. Beberapa bulan setelahnya, Sean mulai sering mengajakku bertemu tanpa ada Vie. Bukan kencan, tentu saja. Ia hanya bercerita tentang keluh kesahnya dan aku hanya dijadikan tempat sampah hatinya. Mungkin bisa dibilang ia menganggapku teman laki-laki-nya. Padahal untuk ukuran cewek tomboy, aku tidak termasuk di dalamnya.

“Vie marah lagi denganku,” matanya menerawang pada kaleng minuman soda yang ia putar-putar tanpa alasan.
 
“Kau bikin masalah apalagi?” aku meletakkan siku pada meja rumah makan tempat kami bertemu untuk menopang dagu.
 
“Nggak tau. Dia marah  terus ngomong, cari tahu sendiri saja sana kesalahanmu, bodoh!” Sean mengikuti persis gaya Vie ketika marah, membuatku tak bisa menahan tawa. “Cewek memang suka begitu, ya. Aku nggak tahu salahku, makanya aku nanya, kan.”
 
“Kayak  gitu, kan, biar kamu bisa instropeksi diri.”
 
“Aku lelah sama kemarahannya yang nggak ada dasarnya begitu. Aku capek nanggapinnya.”
 
“Tapi kau cinta dia, kan?”
 
“Sangat...” sebuah senyum tulus yang pasrah terkembang dari bibirnya, membuat hatiku cukup terenyuh.
 
Aku cukup sadar bahwa prasaanku kepadanya sudah mulai berubah. Ada bibit yang ia tanamkan tanpa sengaja dalam hatiku. Ada angin kelembutan yang ia tiupkan melalui celah di hatiku. Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya di dekatku, membuatku ingin memonopolinya. Hanya saja aku juga cukup punya kesadaran bahwa  hatinya teah dimiliki orang lain. Setidaknya aku hanya ingin ia tetap bergantung padaku.
 
“Selingkuh saja, deh, sana. Daripada capek mikirin Vie,” aku mengatakannya setengah bercanda dengan tawa khasku.
 
“Denganmu?”
 
“Boleh, deh,” kupikir ia bercanda, jadi kuiyakan dengan ringan. Tapi kusadari tatapan matanya tajam menembus diriku. Lalu sebuah senyum yang sulit kuartikan terpampang di wajahnya.
 
“Aku juga nggak keberatan, sih, kalau itu kau. Biar kuanggap kau pacar keduaku, deh,” bicaranya terdengar bercanda dengan kekehannya.
 
“Nggak masalah buatku, sih. ‘Toh aku juga lagi senggang. Anggap saja aku kekasihmu kalau kau lagi galau gara-gara Vie, ya,” aku membalas senyumannya itu tanpa niat ada keseriusan yang terucap dari bibirku.
                                                                      -o0o-

Kupikir semua pembicaraan tentang perselingkuhan itu hanya candaan di antara kami. Tapi setelah itu Sean lebih sering memintaku bertemu tanpa ada pembicaraan tentang Vie di  antara kami. Sampai pada akhirnya bergandengan tangan dan saling mengecup bibir adalah hal yang sangat wajar ketika kami bertemu. Memang tidak ada kepastian tentang hubungan kami. Apakah memang aku dijadikan  objek untuknya melakukan affair atau ini hanya keisengannya semata. Aku tidak peduli. Meski kadang keragu-raguan merayapi, tapi kebahagiaan yang mengalir terus menumbuhkan bibit yang ia tanam tanpa bisa mati oleh parasit keraguan itu.
 
Kami kemudian lulus dari bangku sekolah. Sean dan Vie masih saling menjalin hubungan meski sedikit terlihat hambar di mataku. Sean dan aku memilih perguruan tinggi di kota ini meski berbeda universitas. Sedang Vie mengambil kuliah di negeri orang, Sidney, Australia. Kesepian hati Sean membuatnya semakin sering menjadikanku sebagai objek pengganti Vie. Ia terus memperlakukanku layaknya seorang kekasih. Tapi tak sekali pun ia menyatakan cinta padaku. Aku tidak peduli, asal ia terus berada di sampingku.
 
Hingga pada akhirnya ada suatu waktu ketika Sean datang padaku dengan tatapan hampa. Seakan-akan ada beban yang begitu berat yang ia tanggung, membuat punggungnya terlihat kuyu. Ketika aku memanggilnya, tak ada reaksi yang ia ucapkan. Ia terus berjalan kearahku, kemudian meletakkan dahinya di bahuku. Aku membawanya duduk di sofa dan menunggunya berbicara. Setelah cukup lama kami diam dalam keheningan, pada akhirnya ia mulai membuka mulut.
 
“Re, aku... aku putus dengan Vie.”
 
Rasanya aku ingin berteriak kegirangan pada saat itu. Tapi senyum Sean yang amat sangat dipaksakan itu membuatku ragu untuk merasakan euforia yang mengalir dalam tubuhku. Ada suatu kontradiksi yang membuat jantungku terasa nyeri saat berdetak.
 
“Kenapa kalian putus?” aku berusaha bertanya tanpa nada gembira.
 
“Aku yang memutuskan dia,” ujarnya lirih membuatku berseru kaget. “Aku nggak sanggup, Re. Aku capek dengan hubungan kami. Aku capek dengan sikap Vie yang semakin lama semakin cuek padaku. Makanya kupikir kami butuh jarak, hingga kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami,” ia mengeluarkan semua emosinya dengan nada tinggi saat bicara. “Tapi pada akhirnya... aku yang merasa sakit begini,” Sean merenggut rambutnya. Ia membenamkan wajahnya. Aku tahu setetes air mata telah jatuh di pipinya.
 
Yang bisa kulakukan hanya membawa Sean yang rapuh itu ke dalam dekapanku. Hatiku hancur melihatnya tak berdaya. Hatiku nyeri melihat bahwa kenyataannya Sean amat sangat mencintai Vie. Aku padahal tahu bahwa sama sekali tak ada aku di antara dunia Sean dan Vie. Aku sudah tahu itu sejak lama, sejak kupikir memang mereka adalah pasangan yang serasi. Aku marah pada diriku yang tak bisa tegas terhadap perasaanku. Tapi pada akhirnya aku hanya bisa pasrah pada bunga-bunga yang tak berhenti bermekaran di dalam hatiku. Hingga pada akhirnya kubiarkan duri-durinya terus membuat rasa nyeri yang tak pernah berakhir.
                                                                          -o0o-

Sejak itu hubunganku dengan Sean tak pernah berubah. Kehadirannya dalam kehidupanku adalah hal yang biasa. Ia sudah menjadi bagian dari hidupku meski tak satu pun dari kami mengatakan cinta atau pun suka. Aku tahu Sean mencintai Vie hampir melebihi hidupnya. Tapi sikapnya yang memperlakukan aku layaknya kekasih itu sama sekali tak pernah berubah. Bahkan semenjak itu tak sekali pun Sean menyebut-nyebut nama  Vie. Aku pun tak punya niat untuk menggali lagi 
kenangannya bersama teman baikku itu.
 
Aku tahu kau cinta pada Sean dan ia memperlakukanmu sebagai kekasihnya. Tapi apa kau nggak merasa kalau dia masih sayang pada Vie? Apa nggak sebaiknya kau hentikan hal itu? 
Seorang sahabatku pernah menasihatiku begitu. Tapi kubilang, mungkin memang begitu. Tapi kurasa pada akhirnya Sean bisa melupakannya dan berpaling padaku.
 
Naif memang. Tapi setiap kali aku melihat tatapannya yang begitu lembut padaku, setiap melihat senyumannya yang tulus padaku... kurasa bukan hanya delusiku. Kurasa memang pada akhirnya Sean melihatku sebagai wanita yang diinginkannya. Kurasa memang pada akhirnya begitu. Tapi pada akhirnya keragu-raguan oleh logika sering muncul menghancurkan harapanku, menyadarkan kenaifanku.
 
Aku semakin menggenggamkan tanganku, berusaha mempertahankan kekuatan hatiku yang mulai lemah. Tubuhku agak gemetar, membuat Sean yang masih merangkulku sedikit terusik.
 
“Re, kau nggak apa-apa?” ia bertanya khawatir, membuyarkan lamunanku.
 
“Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa,” jawabku, setengahnya meyakinkan diri sendiri.
 
“Begitu...”
 
Aku mencuri pandang pada Sean. Matanya masih tak bosan memandangi  kerlap-kerlip lampu kota dinaungi langit yang masih terlihat kemerahan akibat polusinya. Tapi di sana kulihat terselip kekosongan, sebuah keresahan yang mengusik hatinya. Jantungku mulai terasa nyeri kembali ketika ia memompa darah ke seluruh tubuh. Aku yakin ada yang salah padanya. Firasatku buruk. Tapi penasaran membuatku tak bisa membungkam mulutku.
 
“Kau kenapa, Sean? Ada yang kau pikirkan?”
 
Ia menoleh padaku agak terkejut. Lalu ia menghela napas dan memberiku sebuah senyum ambigu yang sedikit menyiratkan kesedihan. Lengan yang ia rangkulkan di bahuku ia lepaskan, kemudian kembali mengambil posisi berdiri di depanku, di tepi tebing. Punggungnya terlihat jauh seakan-akan ia akan pergi meninggalkanku. Sekali lagi ketukan keras di dadaku membuatku sulit mengambil oksigen.
 
“Vie...” ia lama menggantungkan kalimatnya. Sudah lama aku tidak mendengar nama wanita itu terucap dari bibirnya. “Kemarin aku bertemu dengannya. Dia baru pulang dari Sidney seminggu yang lalu. Nggak ada yang berubah darinya, Re... Nggak. Dia berubah. Dia makin cantik di mataku,” sebuah senyum penuh kerinduan yang ia tampakkan menyayat hatiku.
 
“Terus?” aku berusaha bertanya tanpa mengikuti naluri kecemburuanku, berusaha bertanya dengan nada yang tak terdengar ketus.
 
“Aku bisa lihat dari matanya kalau dia masih punya perasaan padaku. Aku juga nggak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku... masih sayang pada Vie.”
 
Kalimatnya seperti hantaman keras yang berusaha membuatku tak sanggup berdiri lagi. Tapi aku masih bisa berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan diri.

“Sean. Selama ini aku penasaran, kau anggap aku ini apa? Temanmu? Pacarmu? Selingkuhanmu? Atau bahkan hanya selingan selama hatimu terasa sepi?” aku bertanya. Mungkin sedikit terdengar dingin. Tapi kububuhkan senyu tulus di akhir kalimat itu. “Aku... jujur saja, aku serius cinta padamu.”
 
Sean sempat terdiam dengan wajah shock. Tapi pada akhirnya kekakuan wajahnya memudar tergantikan oleh senyum simpul dengan buku-buku di antara alisnya yang cukup tebal. Ia kembali memunggungiku, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Sekali pun aku nggak pernah menganggapmu selingan. Kau berharga bagiku, Re,” ujarnya kemudian kembali berbalik memandangku. “Aku cinta padamu. Tapi aku juga tak bisa melepaskan diriku dari Vie. Sekali pun hatiku terbagi dua, ruangan untuk Vie lebih besar dibandingkan milikmu, Re. Makanya kuputuskan untuk kembali pada Vie. Aku sudah nggak sanggup untuk menyakitimu lebih dari ini. Maaf, Re,” buku-buku antar alisnya semakin dalam.
 
Aku tahu ia berat untuk mengatakan hal itu meski hatiku pun hampir tak mampu menelan bulat-bulat kalimat darinya. Rasanya ingin muntah, mengeluarkan semua kesedihan dan rasa sakit akibat duri yang telah menjadi racun. Bunga-bunga itu tetap bersikeras menumbuhkan cabangnya meski tanah tempat ia tumbuh selama ini hanyalah ilusi semata.
 
Aku berusaha tetap tenang, sebisanya membendung air mata yang ingin meledak. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menatap Sean dengan senyum yang kuharap tak terlihat terlalu dipaksakan.
 
“Sudah cukup. Aku sudah puas mendengar pernyataanmu. Setidaknya aku nggak dianggap cuma selingan bagimu. Aku senang mendengar perasaanmu. Sejak awal aku tahu kalau separuh napasmu adalah milik Vie, Sean. Aku hanya berusaha meyakinkan diri kalau napas itu bisa kucuri dari Vie. Pada akhirnya aku tetap kalah. Aku terlalu naif.”
 
“Maaf, Re...”
 
“Nggak. Nggak perlu minta maaf. Anggap saja pernyataanku itu nggak pernah ada. Aku nggak mau merusak persahabatan kita, Sean. Kita tetap bisa berteman seperti biasa, kan? Ya, Sean?” setengahnya aku benar-benar memohon padanya. Ia sempat terdiam kesulitan. Tapi pada akhirnya ia tersenyum pasrah.
 
“Ya sudahlah kalau kau maunya begitu.”
 
“Sudah larut dan udara juga semakin dingin. Antarkan aku pulang, ya. Untuk terakhir kalinya malam ini, antarkan aku sebagai kekasih-mu.”
 
Sean hanya mengangguk. Ia kemudian menunggangi Tiger kesayangannya. Aku duduk di belakangnya. Tanganku erat merangkul pinggangnya.
 
Ini yang terakhir. Malam ini yang terakhir. Punggung kecil yang bidang yang terasa hanga, pinggang dengan bidang perut yang terasa kencang, aroma parfum khas miliknya, malam ini adalah waktu terakhirku untuk memiliki semua itu.
 
Angin begitu kencang menerpa wajahku, membawa air mata yang pada akhirnya tak bisa berhenti berderai. Punggung Sean basah, kurasa ia sadar bahwa aku menangis. Tapi ia diam saja. Aku pun diam saja. kami berpura-pura tak tahu apa pun. Dalam diam dengan desiran angin malam ini, kuharap angin itu bisa membawa pergi serta perasaan sakit ini, sama seperti ia menyapu pergi air mata dari pipi yang terasa lembab.
                                                                            -o0o-
Read More

Minggu, 03 Maret 2013

Someday We Will Be Out Of Neverland


Someday We Will Be Out Of Neverland
Oleh Firdausi R.

Seperti Tinkerbell, hanya berdiam diri dengan cinta yang dirasakan. Seperti Tinkerbell, hanya menjerit tak bersuara dalam genggaman perasaan sepihak yang  disembunyikan. Seperti Tinkerbell, aku bertahan dalam lara di sampingnya. Karena seperti Tinkerbell, ia adalah Peterpan bagiku, kehadiranku ada karena kepercayaannya padaku.
-o0o-
Read More

Senin, 25 Februari 2013

Hati yang Diam Dalam Gelas Kaca


blog ini udah hampir terbengkalai, nggak kesentuh sama sekali :')
Mau gimana lagi, saya kena writter block syndrome, sih. Dan beberapa bulan sebelumnya disibukan merampungkan multichapter story yang masih on going publish-nya di fictionpress.com :')
Dan hari ini tadi ngubek-ngubek lagi isi folder  di hard disk saya, nemu cerita ini. Kayaknya belum kupublish dimana pun. Ya udah, deh. buat ngehidupin lagi blog ini, jadi saya publish di sini aja.
Read it if you want :')
 
Hati yang Diam Dalam Gelas Kaca
Oleh Firdausi Riskiviawinanda
Read More

Rabu, 18 Januari 2012

Bayang-Bayang Asa


Bayang-Bayang Asa
Oleh Firdausi R.
Read More