Tampilkan postingan dengan label general. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2013

Jejak Sunyi Suara Hati



Jejak Sunyi Suara Hati
oleh Firdausi R.
.
.



Pada waktu yang berlalu satu tahun ke belakang, sekali pun tak pernah si gadis, Lea, menujukan irisnya pada laki-laki itu. Yah, mungkin untuk melihatnya sekilas atau sambil lalu memang pernah. Tapi secara sembunyi-sembunyi dan menyiratkan maksud tertentu, tidak sekali pun ia pernah punya niat begitu. Kemudian waktu berlalu. Pujaan-pujaan gadis terhadap pria itu selalu melayang masuk ke telinganya. Membuat syaraf motoriknya tergoda untuk mengarahkan bola matanya, menganalisis. Sekali… dua kali… Lalu tanpa sadar sosok laki-laki itu mulai menjadi hal yang adiktif bagi matanya, menggambarkan tiap detil sosok itu yang terus membayang-bayangi otaknya.
Grey, nama pria itu. Pengejaannya sama seperti warna abu. Cukup cocok dengan rambutnya yang berwarna keperakan. Setidaknya begitu yang ia pikirkan. Grey cukup dipuja oleh para gadis sekampus terutama teman-teman satu angkatannya. Wajar saja. Setelah setahun ia mengamati Grey, ia baru menyadari daya tarik laki-laki itu. Kulitnya putih bersih. Tulang rahangnya tak begitu terbentuk di wajahnya tapi cukup mengesankan bahwa memang ia adalah laki-laki. Dagunya agak panjang. Bibirnya tipis agak ranum dan sering terkatup, ia memang jarang bicara. Rambutnya keperakan. Ada sedikit poni menjuntai di atas keningnya menampakan dengan jelas mata yang agak sipit. Mungkin ia ada seperempat keturunan etnis China.
Grey bukan tipe cowok yang gagah. Grey juga bukan tipe laki-laki yang suka tebar pesona. Grey adalah laki-laki pendiam dan agak malu-malu. Karenanya, ia sekali pun tidak pernah tertarik pada Grey dulunya, karena bagi gadis itu sulit menghadapi orang dengan tipikal yang sama dengan dirinya. Dan selama waktu berjalan lebih dari satu tahun, mungkin ia bisa menghitung dengan jari tangannya seberapa sering ia bicara dengan Grey. Untuk bicara basa-basi, bahkan jari pun tak bisa menghitungnya sebab hal itu sama sekali tidak pernah terjadi.
Sekali lagi hari ini, hanya dengan suara berdehem Grey, matanya mencuri-curi kesempatan untuk memuaskan hasratnya akan sosok itu. Setiap kali sosok itu tertangkap di lensanya, seakan ada drainase yang bocor dan tekanan dari otot jantung yang over kontraksi, pusarannya memusat di kedua pipinya, mengakukan seluruh tubuhnya. Ia tetap pada tempatnya. Menatap laki-laki itu dalam waktu yang dicurinya, menikmati setiap adrenalin yang menjadi euforia hasrat hatinya.
-o0o-
Namanya Lea Raicheal Collins. Lahir musim semi, bulan Mei tanggal tujuh. Dari lahir sampai detik ini tak sekali pun ia pindah meninggalkan kota ini. Kesukaannya kopi, senang dengan musik beraliran alternative, hobi membaca buku terutama novel fantasi, fanatik terhadap hal-hal yang berbau jepang maupun benda-benda berwarna gelap. Setidaknya begitulah yang Grey tahu tentang gadis pujaannya.
Sejak kapan ia mulai jatuh cinta pada gadis itu, tepatnya ia tidak tahu. Tapi mungkin sudah cukup lama sampai-sampai ia mulai terbiasa dengan keadaan jantung yang tak mau berhenti berdetak kencang setiap gadis itu tertangkap oleh iris matanya.
Awalnya ia tak menaruh perhatian pada Lea, sama sekali tidak. Tapi ketidakanggunannya menjadi keunikan yang sering dibicarakan para kaum lelaki teman-temannya. Bukan karena mereka tertarik, tentu saja. Tapi hanya karena gadis itu unik, hanya seperti itu. Cuap-cuapan itu seperti doktrin bagi otaknya. Telinganya merekam, matanya melukis khayal di antara sela-sela otak. Sosok Lea menjadi cukup nyata membayangi dirinya.
Lea cantik menurutnya. Meski ketidakanggunan dan ketertutupan dirinya menyembunyikan hal itu. Wajahnya ovale, meski agak bulat di daerah pipi ketika ia tersenyum. Sebut saja tembem atau apalah. Bola matanya hijau kristal, terlihat tegas meski kadang terlihat begitu mengantuk. Hidungnya yang tidak begitu mancung tapi lancip menambah ketegasan yang cantik di parasnya. Bibirnya sering terlihat datar sebab ia memang sering terlihat begitu bosan. Tapi warna kemerahan yang terpoles di sana membuat Grey ingin sekali menyentuh bibir itu, mengecupnya.
Lea tidak anggun. Ya, memang. Grey sendiri setuju dengan pendapat yang dilontarkan semua teman laki-lakinya yang pernah berkomentar tentang gadis itu. Tak pernah sekali pun gadis itu mengenakan rok atau mini-skirt. Selalu denim maupun celana jeans panjang yang memperlihatkan lekuk kakinya yang jenjang yang ia kenakan. Celana itu selalu dipadukan dengan sepatu yang cocok – kebanyakan wedges boots hitam setinggi mata kaki. Atasannnya sering kaos tanpa lengan yang tidak longgar juga tidak ketat dilapisi kemeja tanpa di kancing, kemudian dibalut lagi dengan blazer berlengan sampai siku. Kadang juga kemeja yang ditumpuk lagi dengan coat yang hampir sepanjang lutut. Grey akui ia sangat menyukai style gadis itu. Lea tidak anggun, mungkin. Tapi kadang Grey melihatnya sebagai wanita feminin dengan caranya sendiri dan anggun dalam keunikannya.
Gadis itu cukup pendiam, tipikal yang sama dengan dirinya sendiri. Lea juga bisa dibilang kutu buku. Tapi ia bukan seseorang yang dikucilkan seperti kebanyakan kutu buku lainnya. Malahan ia cukup banyak punya teman meski jarang bicara di antara kelompoknya. Mungkin karena gaya pakaiannya yang tidak ketinggalan jaman. Mungkin karena ketidakanggunannya yang membuat ia terlihat lebih kuat keberadaannya. Mungkin karena ketegasan yang kadang begitu tersurat dari garis wajahnya yang lebih sering tampak malu-malu canggung dan kadang bosan. Dan itu yang mungkin membuat Grey takhluk diam-diam padanya.
Lea tipikal yang sama dengannya, tapi mungkin lebih fleksibel. Sebab meski pada awalnya canggung, gadis itu mampu berbaur dengan lawan jenisnya. Bercanda, tersenyum, tertawa, bahkan saling mengejek. Sial bagi Grey, sekali pun tak pernah Lea tertawa seperti itu padanya. Sekali pun tak pernah suara yang terdengar agak serak itu bercanda bebas dengannya. Kadang Grey mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa dengan lancar bicara pada anak perempuan. Apalagi dengan Lea. Kegugupan yang menjalari seluruh tubuhnya membuat suaranya menyangkut di tenggorakan. Bahkan otot mulutnya pun begitu kaku untuk tersenyum ketika mereka tanpa sengaja saling bertatapan.
Grey mengambil tempat duduk di baris kedua dari belakang, tempat ia biasanya duduk. Satu deretan dengan Lea tentu saja, meski jarak mereka dipisahkan hampir sepuluh kursi di antaranya, tapi dari situ Grey bisa dengan sembunyi-sembunyi menatap gadis itu. Jika suatu saat mereka saling bertukar pandang secara kebetulan, ketika itu Grey tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyapanya dengan senyum. Sayang Lea hanya menunduk sambil menopang dagu dengan bosan dan setengah wajahnya tertutup rambut coklatnya yang tergerai setiap kali matanya berusaha menangkap sosok gadis itu. Kecewa mungkin sedikit terbersit, tapi kepuasan mata dan hatinya cukup terpenuhi hanya dengan memerhatikan gadis itu selama dua jam ceramah kuliah yang membosankan.
-o0o-
Mungkin Tuhan juga gemas dengan mereka. Kesempatan kecil yang Ia berikan selalu disia-siakan oleh kedua makhluk itu. Hingga pada akhirnya kesempatan besar mungkin yang diberikan-Nya hari ini.
Grey mungkin tadi kesal dan menyumpah dalam hati sebab teman-temannya membuatnya menunggu seorang diri. Mereka bilang janji akan menemuinya secepatnya setelah urusan mereka di klub selesai dan urusan itu, mereka bersumpah tak akan lama. Tapi pada kenyataannya Grey menunggu setengah jam di samping lapangan rugby, tempat pertemuan klub temannya, dan urusan itu sama sekali belum selesai. Grey terus menyumpah dalam hati selama perjalanannya di koridor kampus setelah bosan menunggu berdiri di samping lapangan rugby. Kalau saja ia tidak menemukan sosok Lea di depannya, mungkin sumpah serapah itu takkan berhenti.
Agak terkejut, jantungnya tiba-tiba over kontraksi, mendentum berlebihan pada dinding dada. Gadis itu sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon akasia yang rindang, tak jauh dari tempat ia berdiri. Tangannya terlipat di bawah dada. Kakinya menyilang dan tak mau diam. Beberapa kali ia menguap, sepertinya kelihatan bosan sekali. Menurut dugaannya, Lea pasti sedang menunggu seseorang.
Lea berdecak kesal. Menunggu adalah hal paling membosankan yang paling ia benci. Makanya ia lebih senang mengendarai mobil sendiri atau jalan kaki. Tapi perihal kecelakaan kecil yang ia alami seminggu lalu membuatnya tak dipercaya lagi untuk mengendarai mobil sendiri. Dan jalan kaki bukan pilihan yang diajukan oleh kedua orang tuanya. Mau tidak mau ia harus patuh diantar-jemput saat kuliah.
Ketika menguap untuk entah yang ke berapa kalinya, ia melayangkan matanya ke arah lain, kalau-kalau menemui sosok Grey yang menjadi candu itu. Dan benar saja, di sisi kiri, Grey sedang berdiri diam tak jauh dari sana. Pandangan mereka saling bertemu dan karena terkejut, secepatnya Lea menundukkan wajahnya.
Sial, gerutu Lea berkali-kali dalam hatinya. Apa Grey sejak tadi sudah ada di situ? Apa ia melihat Lea yang menguap lebar berkali-kali tanpa menutup mulut? Apa ia terlihat terlalu duduk gagah di mata Grey? Apa ia saat ini terlihat cantik? Apa rambutnya tidak berantakan? Apa bedak tipisnya luntur dan bibirnya terlihat seperti orang mati karena polesannya sudah terhapus? Otaknya cukup kacau memikirkan pertanyaan-pertanyaan bodoh itu.
Mereka sempat bertemu pandang tadi. Grey memang sempat kaget. Saat ia baru saja ingin memberi senyum terbaiknya, gadis itu menunduk, membiarkan poni tanggungnya menutupi matanya dan rambut coklatnya menjuntai menutupi setengah wajahnya. Grey cukup merasa shock dengan reaksinya. Mungkinkah gadis itu pada dasarnya membencinya hingga tak pernah sekali pun ia bicara basa-basi padanya? Memikirkan satu pertanyaan itu saja, cukup membuat perasaannya kacau.
Grey diam di tempatnya, masih berpikir. Ia menatap ke sekeliling, di sekitar sana hanya ada mereka berdua, setidaknya yang saling mengenal. Kemudian ia menatap langit yang menampakkan awan putih agak kelabu melapisi biru langit tanpa matahari.
Kau memberikanku kesempatan sekali lagi. Kurasa kali ini sebaiknya kugunakan dengan sungguh-sungguh, ia bicara pada Tuhan dalam hati. Ia duduk di samping Lea.
Ada udara yang membatasi mereka. Lea mengambil ponselnya memasangkan ujung kabel headset-nya pada teknologi tersebut. Ia terlalu canggung, kaku, dan malu. Seharusnya itu kesempatan yang baik untuk bisa lebih saling mengenal dengan Grey. Tapi jantungnya sulit diajak kompromi. Jantungnya terus berdentum keras tanpa henti. Satu-satunya yang bisa membuatnya tenang walau sedikit adalah musik. Jadi ia memasangkan headset ke telinganya, meski hanya di telinga kanannya. Telinga kirinya ia biarkan bebas untuk mengamati suara dari gerak-gerik laki-laki di sebelahnya.
Grey agak shock melihat reaksi Lea yang langsung menggunakan headset-nya setelah menyadari kehadirannya. Apa gadis itu memang membenci dirinya? Apa Lea tidak mau bicara dengannya? Grey ingin memastikan dengan menelisik wajahnya, tapi sayang wajah cantik itu agak tertutupi oleh rambutnya sebab Lea agak menunduk. Grey menghela napas kemudian merogoh tasnya untuk mengambil novel yang sedang dalam proses penamatan untuk dibaca. Ia berharap Lea melihat itu dan dapat menarik perhatiannya. Setidaknya novel yang ia baca adalah novel fantasi.
Orang jatuh cinta memang sering aneh. Lea sulit bernapas. Bukan karena ia lupa bagaimana cara bernapas. Hanya saja ia takut kalau-kalau suara napasnya terdengar. Ia takut kalau-kalau suara napasnya aneh dan membuat Grey merasa semakin tidak ingin bicara dengannya. Ia takut kalau-kalau suara jantungnya yang tak sanggup dibendung itu terdengar seperti seorang maniak yang terlalu bergairah.
Di balik rambutnya, ia melirik Grey. Celah antara helai-helainya menampakan Grey sedang serius menenggelami buku yang ia baca. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Matanya yang kecil seakan melekat pada lembar halaman yang ia baca. Manis sekali menurut Lea. Lea berniat untuk menikmati pemandangan itu sampai waktu akan memisahkan mereka hari ini. Hingga pada akhirnya ia sadar apa yang sedang dibaca oleh Grey.
"Serpent's Shadow!" Lea berseru dengan suara pelan.
Meski suaranya pelan, Grey bisa mendengar jelas sekali seruan itu. Anggap saja kekuatan cinta. Grey tersenyum, sebisanya ia mengulum senyum itu agar tidak terlihat terlalu senang. Siasatnya untuk menarik perhatian Lea berhasil.
"Ma-maaf. Lanjutkan saja membacamu," Lea membuang muka. Ia menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rasa malunya. Ia menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang panas yang terpesona oleh senyum simpul yang diberikan Grey.
"Nggak apa-apa. Aku nggak merasa terganggu. Cuman kaget saja mendengarmu tiba-tiba berseru," Grey berucap. Di dalam hatinya ia menenangkan dirinya sendiri agar tidak terdengar gugup. Yah, ia berharap suaranya tidak terdengar menyedihkan.
Sempat keheningan kembali mengambil alih. Bahkan musik yang masuk ke telinga Lea tak terdengar lagi. Ia gugup. Ia bingung harus bicara lagi. Secanggung-canggungnya ia terhadap laki-laki, tidak pernah ia kehilangan kata-kata seperti ini.
"Suka baca karya Riordan juga, ya?" pada akhirnya Lea mulai kembali bicara.
"Uhm.. Novelis jenius kurasa. Aku suka gaya tulisannya. Ceritanya juga menakjubkan. Nggak kalah sama Harry Potter," Grey sebisanya bicara banyak agar percakapan itu tak terputus.
"Aku sama sekali belum pernah membaca Harry Potter atau pun menonton film-nya."
Pernyataan Lea yang terdengar jujur dan polos itu membuat Grey tak mampu menahan tawanya. Manis sekali gadis itu dalam pikirannya. Dan Lea amat sangat terpesona oleh wajah yang saat ini menampakan bibir yang terkembang, memperdengarkan suara tawa yang renyah.
"Ah maaf. Aku nggak bermaksud menertawakanmu. Cuma untuk gadis yang suka membaca novel fantasi sepertimu tidak pernah tahu cerita Harry Potter, hal itu cukup mengejutkanku—"
Grey segera menutup mulutnya. Ia merasa sudah terlalu banyak bicara. Ia takut Lea akan menganggapnya aneh sebab tahu hobi gadis itu padahal mereka bicara saja bisa dibilang tidak pernah sama sekali kecuali hari ini. Ia tidak bisa menerka isi hati Lea, sebab gadis itu lagi-lagi menunduk, merapatkan tangannya yang terlipat di bawah dada.
Lea menunduk karena sudah pasti wajahnya saat ini amat sangat merona. Jantungnya saja lebih cepat berdetak melebihi sebelum-sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa senyum lebar Grey amat sangat memesona. Suaranya yang renyah seakan-akan menghipnotisnya, memperdayanya agar semakin tertarik padanya. Dan terlebih lagi, Grey tahu hobinya. Entah darimana pria itu tahu, yang pasti itu menjadi sebuah kehormatan bagi Lea.
"Mau bagaimana lagi. Dulu aku benci baca novel tebal. Aku juga nggak suka nonton film. Lagian Harry Potter kan ada sejak jaman SD dulu," Lea kembali bicara. Suaranya yang hampir pecah itu jelas sekali menunjukan bahwa ia sedang malu. Bahkan Grey saja bisa mengerti hal itu.
"Nggak mau coba baca sekarang?"
"Nggak. Meski aku suka membaca, kadang aku juga malas membaca novel setebal itu. Lagian kesannya jadi ketinggalan jaman. Jadi... Yah, aku nggak tertarik sama Harry Potter."
"Kalau ini?"
"Iya, aku suka. Aku suka karya Riordan yang lain. Percy Jackson, kan? Aku tahu sebelum serialnya dijadikan film. Saat film-nya keluar, tahu-tahu banyak yang membahasnya. Rasanya agak kesal juga."
"Rasanya kayak ada yang merebut pacarmu, kan? Kayak rahasiamu tiba-tiba terbongkar," Grey berceletuk. Ia merasakan hal yang sama. Bukan dalam hal buku, tentu saja. Kasusnya lain. Ia merasa seperti itu kalau ada orang lain yang memandang Lea dalam sudut pandang yang sama dengannya.
Baru sekali itu Lea melihat Grey menatap lurus dirinya. Matanya abu-abu perak. Indah sekali, membuatnya entah untuk berapa puluh kalinya terpesona pada laki-laki itu hari ini.
"Kau benar," lagi-lagi Lea memalingkan wajahnya. "Ngomong-ngomong, Serpent's Shadow kapan keluar?"
"Minggu lalu aku ke toko buku, ini sudah ada di sana. Kau belum baca?"
"Aku nggak tahu kalau sudah terbit."
"Oh, begitu. Seru, lho. Ceritanya—"
"Stop! No spoiler, oke?" Lea segera menghentikan Grey bicara.
Meski ia bilang begitu, kelihatan sekali dari wajahnya bahwa ia amat sangat penasaran. Matanya tak bisa lepas menatap novel yang Grey pegang. Spasi antara alisnya berbuku-buku untuk menahan rasa penasarannya. Mulutnya menggerutu kecil, menyuruh dirinya sendiri untuk bersabar. Grey tak bisa menghentikan dirinya untuk memerhatikan gadis di depannya itu. Terlalu cantik, terlalu manis. Ia tidak se-cool kelihatannya. Sekali lagi ia jatuh cinta pada Lea.
Sejak tadi Lea hanya penasaran pada isi cerita novel yang sedang dipegang oleh Grey sampai-sampai matanya lekat sekali memandangi buku tebal itu. Hingga pada akhirnya matanya tak sengaja saling bertemu dengan kedua iris milik Grey. Ia akhirnya sadar laki-laki itu terus menatapinya. Rasanya malu. Jangan-jangan Grey mulai menganggapnya sebagai gadis yang aneh.
Pikiran itu segera ia singkirkan. Ia lalu kembali duduk, berusaha terlihat tetap tenang. Ia lalu melepaskan headset-nya. Tidak ada gunanya lagi menggunakan benda itu. 'Toh musik saat ini tak mampu lagi membuatnya merasa tenang.
Untuk beberapa saat tadi kecanggungan di antara mereka berdua sempat menghilang. Dan dinding tak kasat mata di antara mereka sempat melebur dengan udara. Tapi ketika keheningan kembali menyeruak di antara ruang mereka, dinding itu kembali memadat. Seakan-akan tak pernah terjadi percakapan singkat tadi. Keduanya hanya saling menunduk, menenangkan hati yang meledak-ledak. Keduanya sibuk mencari topik pembicaraan lain untuk meleburkan kembali dinding yang membatasi keduanya.
Saat angin menyapa, keduanya mencuri waktu yang sama untuk melirik satu sama lain. Mata keduahya bertemu, membuat mereka refleks kembali membuang muka. Tangan Grey berkeringat dingin, begitu juga dengan Lea. Perasaan hangat itu mulai menjadi-jadi di dalam diri mereka. Rasanya terlalu bahagia sampai-sampai ketukan-ketukan di dada membuat mereka ingin muntah, meluapkan semua perasaan yang bergejolak semakin tak terkontrol.
"Aku... Kupikir kau membenciku," Grey kembali bicara.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Sebab kau tidak pernah mengajakku bicara."
"Kupikir kau yang nggak suka padaku. Aku hanya tidak bisa memulai pembicaraan. Bukan berarti aku membencimu."
"Sama. Aku juga nggak membencimu. Kau tahu aku bagaimana, kan?"
"Iya, aku mengerti, kok. Cuman kadang kau bisa menyapa teman-teman cewek-mu. Tapi kalau padaku, kau sama sekali nggak pernah menunjukan suaramu," Lea tertawa kecil, berharap tawa itu tidak terlihat menyedihkan. Tapi Grey dapat menangkap perasaannya.
"Nggak, bukan begitu. Aku tidak terbiasa dengan cewek. Tapi karena mereka sering dekat denganku, jadi aku bisa menyapa mereka. Kalau denganmu aku... Kan kubilang kupikir kau membenciku. Lagipula aku... Gugup," kalimat terakhirnya terdengar pelan sekali. Apalagi Grey memalingkan wajahnya sembari menutup mulutnya dengan lengan.
Tampan dan amat sangat manis reaksinya bagi Lea. Pria itu pasti salah satu karya Tuhan yang paling sempurna menurutnya. Kalimat terakhirnya itu tadi agak samar terdengar oleh Lea. Meski ia tidak yakin apa benar Grey tadi mengatakan gugup terhadapnya atau tidak, entah kenapa hal itu membuatnya senang.
"Nggak apa-apa. Ternyata ada kesalahpahaman di antara kita selama ini meski kita nggak pernah saling bicara," Lea agak tertawa geli mengetahui kenyataan itu. Hati Grey kembali berdesir melihat manisnya bibir ranum itu ketika tersenyum. Rasa-rasanya perasaannya meluap dan tak sanggup dibendung lagi.
"Anu, aku sebenarnya..."
"Grey!" panggilan yang terdengar tak jauh dari pintu gedung kampus menginterupsi mereka. Grey berdecak kesal dalam hatinya. Ia benar-benar menyumpahi teman-temannya itu. Tadi mereka membuatnya menunggu lama, kali ini datang di waktu yang tidak tepat. "Maaf, kau jadi lama menunggu kami," ia berucap bahkan tanpa merasa bersalah.
"Dasar sialan. Kalian hari ini benar-benar membuatku emosi."
"Ah, Collins. Kau sedang apa di sini?" yang berambut jingkrak bertanya pada Lea tanpa menghiraukan kekesalan Grey.
"Menunggu jemputan," jawab Lea. Tapi matanya masih tak mau lepas memandang Grey. Ia masih belum puas.
"Mau kuantar pulang saja?"
Tawaran itu membuat Lea dan Grey sama-sama terkejut. Lea agak tersanjung akan tawaran itu, tapi ia takut kalau-kalau Grey akan salah paham. Meski ia tak tahu apakah Grey peduli akan hal itu atau tidak. Sedangkan dalam hati Grey sendiri ia berdoa agar Lea menolak tawaran itu.
"Passed. Sebentar lagi jemputanku datang. Thanks tawarannya."
Diam-diam Grey merasa lega dengan tolakan itu.
"Ya, sudah. Kami pulang duluan, ya. Ayo, Grey," si rambut jingkrak tadi merangkul leher Grey, berusaha menariknya. Tapi Grey bertahan sebentar, ingin mengucapkan salam pamit pada Lea.
"Ng... Collins...," Ia agak canggung memanggil nama Lea. Jantung Lea juga hampir copot mendengar namanya tiba-tiba keluar dari mulut Grey.
"Panggil Lea saja."
"Ahh... Ng... Lea. Sampai jumpa besok," Grey mati-matian menahan rasa malunya hanya untuk mengucapkan salam itu.
"Bye...," Lea juga tak kalah mati-matian menahan rasa malunya hanya untuk mengucapkan satu kata itu.
Ketika keduanya semakin menjauh, percakapan beberapa saat tadi bagaikan mimpi bagi mereka. Saat keduanya tak dapat saling menelisik, ada desir kesepian di diri mereka. Pada hati Grey, juga pada hati Lea.
-o0o-
Hari berikutnya Tuhan kembali mempertemukan mereka. Di sebuah lorong kampus, langkah mereka saling berselisih. Ketika mata bertemu mata, euforia bergejolak memacu darah mengalir cepat. Mata mereka sempat saling menghindari. Satu langkah... Dua langkah... Kemudian ketika langkah mereka saling bersinggungan, tak ada suara yang saling menyapa. Hanya dua pasang bola mata saling berisyarat diiringi dengan senyum canggung di wajah mereka. Langkah berikutnya ketika saling bersilangan, mereka menunduk menyembunyikan rona masing-masing, menahan diri untuk tidak menari kegirangan.
Tak ada suara ketika mereka saling bersinggungan kecuali suara kegirangan yang menjerit-jerit dalam diri keduanya. Dalam langkah yang sunyi, tertinggal jejak-jejak suara hati. Ada dua sulur cinta yang semakin tumbuh di antara langkah mereka yang diam, menunggu saling bertautan, hingga mereka merekahkan kembang ketika kedua sulur saling bersatu.
-o0o-

Read More

Minggu, 01 April 2012

Senja Ketika Gerimis Belum Berhenti


Senja Ketika Gerimis Belum Berhenti
Original Story by Firdausi

Langit masih biru dengan polesan jingga. Tapi tidak secerah biasanya sebab matahari bersembunyi dibalik awan kelabu. Suara halus rintik gerimis yang membentur atap menguasai liang telingaku. Aku duduk di bangku panjang, di bawah atap yang menaungi beranda sekolah, tempat para siswa berkumpul biasanya saat istirahat. Cukup lama aku di sini, ketika sore masih belum sesenja ini.
Yang terdengar memang hanya suara gerimis halus. Tapi di antara gerimis, ada dua tarikan nafas yang saling menyembunyikan diri dan tanpa suara. Ada dia yang duduk tepat di sampingku namun jarak beberapa sentimeter memisahkan kami.
Ya, dia. Aku mengenalnya. Begitu akrab, jauh di waktu sebelum ini. Berbincang adalah kegiatan kami setiap hari. Tapi ketika waktu tak mau berhenti, lidahku kelu, tak mampu mengucapkan satu-dua kata untuknya, untuk memecah keheningan yang mulai terasa canggung.
Mataku malu-malu untuk menatap sosok laki-laki berbadan tegap di sebelahku itu. Jadi aku mengambil sikap hanya dengan meliriknya diam-diam. Tangannya saling bertautan satu sama lain, mungkin untuk melawan udara dingin yang mulai menyelimuti. Tangan itu tak berubah. Tangan yang besar dengan jari-jari yang panjang. Dulu sela-selanya adalah milik jemariku.
“Kau... gimana kabarmu?” akhirnya keheningan pecah di tengah udara yang semakin tipis akan kehangatan.
“Nggak ada yang berubah,” sebisanya aku melawan kekakuan pada lidahku.
“Sepertinya sudah lama sekali kita nggak bicara seperti ini, ya,” ujarnya masih dengan suara bass-nya yang rendah. Pada mata yang masih menatapnya secara sembunyi-sembunyi, aku menangkap sebuah bibir yang tersenyum canggung dari wajahnya.
Suara itu. Sungguh, aku merindukannya. Senyum manisnya – meski saat ini hanya senyum canggung – tak pernah berubah. Selalu mampu meluluhkan hatiku. Suara itu... dan senyumannya. Aku ingat bagaimana pertama kali kami melewati batas yang disebut persahabatan.
Sejak semester awal  di sekolah ini,  aku dan dia sudah menjadi teman akrab. Entah bagaimana keakraban itu terjadi, tapi kami selalu  memahami satu sama lain. Tak pernah terpikirkan bahwa keakraban itu akan membawa suatu perasaan yang lain. Aku jatuh cinta di tengah canda tawa yang selalu kami tukar.
Malam minggu –aku ingat – teleponku berdering dan tertulis namanya di layar. Ketika kuangkat, suara khasnya melantunkan lagu. Aku tahu ia memang berbakat dalam bidang tarik suara. Indah. Dan semakin indah ketika kurasakan suaranya begitu dekat dengan telingaku, seakan berbisik dengan lembut, menyisir relung hatiku. Bisa kudengar ada iring-iringan musik gitar akustik untuk menemaninya bernyanyi. Aku tahu bahwa ia juga yang memainkan gitar. That’s Where You Find Love milik Westlife yang ia nyanyikan. Lagu lawas memang, tapi itu lagu favoritku.
Ia berhenti melantunkan nada bersamaan dengan gitar yang berhenti dipetik. Sunyi di ujung sana untuk sesaat. Selang detik berikutnya, ia kembali bersuara, tapi aku bisa merasakan bibirnya gemetar untuk bicara.
“Sel, Aku sayang kamu. Mau jadian denganku, nggak?”
Aku terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Selin... Gimana? Halo? Kamu dengar aku nggak? Kalo emang jawaban kamu iya, tolong lihat keluar. Kalau nggak, langsung tutup aja teleponnya.”
Pernyataannya itu membuatku penasaran. Aku segera menengok dari jendela kamarku yang tertutup tirai putih. Di depan rumahku, ia berdiri di bawah langit yang sudah gelap dengan menggendong sebuah gitar dan ponsel di tangan lainnya yang melekat pada telinga. Aku melambaikan tangan padanya, memberikan senyum mengiyakan sambil sedikit menyembunyikan pipiku yang pasti telah berubah ranum. Hari itu, aku melihat senyum terbaiknya yang pernah ia berikan.
Ingatan itu tak pernah hilang dari memori meski telah kadaluarsa satu tahun yang lalu. Masih melekat kuat, apalagi setelah sekian lama kami tidak saling bicara, kini ia duduk di sampingku.
Gerimis masih tak berhenti dan keheningan masih tak mampu dikalahkan. Tapi biru telah bercampur dengan jingga, kini warna langit berubah violet. Sudah cukup senja rupanya. Aku masih terjebak di bawah atap beranda, terpaku pada ingatan masa lalu yang kembali hadir, menyeruak memenuhi ruang dengan batas telanjang di bawah atap yang masih beresonansi dengan gerimis.
Senandung kecil keluar dari bibirnya yang terkatup. Aku tahu betul lagu yang ia senandungkan. Lagu favoritku. That’s Where You Find Love. Aku refleks  menengok ke arahnya,  terperangah sebab aku baru saja melantunkan liriknya dalam bisikan hati. Ia balik menengok ke arahku. Ia tersenyum. Kini senyum lebar dengan deretan giginya yang rapi. Aku bisa melihat lesung pipit di sebelah pipi kirinya yang selalu mampu membuatku tak bisa lepas memandangnya.
“Lagu kesukaanmu, kan? Aku nggak pernah lupa,” ia masih mengumbar senyum lebarnya. Aku kembali membuang muka setelah sadar telah menatapnya begitu lama.
“Iya,” jawabku. Aku bisa merasakan suhu di wajahku begitu kontras dengan udara di sekitar. “Kau minggu lalu ikut festival band sekolah dan menang, kan? Selamat, ya.”
“Yah, terima kasih. Semua berkat suara indahku.”
“Nggak berubah, ya. Tetap saja raja narsis kayak dulu. Bodoh,” aku tertawa kecil, membuat kecanggungan sedikit mencair.
“Belajar darimu, kan,” ia balas tertawa.
“Yaahh... sebenarnya kemenangan itu bukan karena suaramu. Tapi yang kau nyanyikan lagu kesukaanku. Itu yang membawa keberuntungan padamu, kan.”
“Nah, kan. Nggak salah kalau kubilang narsis itu datangnya darimu.”
Kami kembali tertawa. Tapi sesaat kemudian gerimis kembali menguasai. Hening dalam senja yang semakin larut. Laki-laki di sampingku itu merapatkan ­Hoodie-nya, menutupi rambutnya yang menyembunyikan telinga dengan tudung. Tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri untuk menjaga agar tetap hangat.
Ia kembali melirikku. Melemparkan pandangan dari atas sampai ke bawah tubuhku yang hanya dilapisi seragam tanpa selembar pun tambahan yang dapat menghangatkan tubuh.
“Nggak dingin? Ini musim penghujan dan hari ini rasanya awan mendung terus sejak tadi pagi. Kau nggak bawa jaket, ya?”
“Dingin memang. Tapi aku malas bawa jaket. Tepatnya, aku lupa dimana meletakan jaketku.”
“Aku heran, kau ini pelupa untuk barang-barangmu sendiri tapi untuk pelajaran kenapa mudah sekali ingat, sih. Bikin kesal saja,” ia tersenyum kecut sedikit jengkel dengan kelakuanku yang seperti itu. Dari dulu ia selalu begitu menanggapi keteledoranku. Ia mengulurkan tangannya. “Sini tanganmu. Paling nggak  biar tanganmu nggak kedinginan,” ujarnya.
Sesaat aku ragu. Aku menatap lekat pada tangan yang terulur itu. Lalu kusambut dengan tanganku. Jari-jarinya masuk ke sela jemariku, menggenggam erat tanganku. Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang jelas sudah saat  ini pasti sedang memerah. Detak jantungku keras mengetuk-ngetuk tulang dada, seakan-akan berontak ingin keluar.
Aku rindu kehangatan tangannya. Genggaman tangannya kuat tapi begitu ramah. Membuatku betah berlama-lama bersentuhan dengan telapak tangan yang halus itu. Aku kembali tenggelam pada memori masa lalu, ketika pertama kali kehangatannya merambat dari tanganku.
Aku ingat saat itu ketika kami pergi berdua untuk  pertama kalinya sebagai kekasih. Aku berusaha sebisanya menjadi sosok wanita yang cantik di matanya dengan mini dress berwarna hijau tosca. Manik-manik kalung menghiasi leherku. Polesan merah muda yang melapisi  bibirku. Dan kurasa aku berhasil membuatnya jatuh cinta lagi padaku saat itu, sebab aku ingat sekali bagaimana ekspresinya saat terpaku melihatku.
Kami berjalan berdampingan. Dekat, tapi seakan-akan masih ada dinding tipis yang membatasi kami.  Sesekali tangan kami saling bersentuhan. Dengan sentuhan sedikit itu saja, seakan-akan ada yang meletup dan ingin membludak dari jantungku yang tak berhenti  berpacu cepat.
Pada akhirnya ia meraih tanganku.
“Kugandeng begini nggak apa-apa, kan?” ujarnya. Kurasa ia juga menahan rasa malunya sebab kulihat telinganya merah sekali. “Yah, kalau kau nggak mau bilang saja. Aku bukannya ingin menggandeng tanganmu, cuman kayaknya ada batas di antara kita kalau nggak kayak gini,” ia memalingkan wajahnya, sepertinya tak mampu lagi menahan rasa malu.
Aku tertawa geli sambil membalas genggaman tangannya. “Tanganmu berkeringat dingin, lho. Kau  gugup, ya.”
“Berisik...”
Aku masih tertawa kecil. Sebenarnya bukan karena lucunya tingkah dia. Meski ada unsur seperti itu, aku hanya melawan kegugupan yang juga melanda diriku. Lucu, memang. Padahal saat kami hanya sebatas teman. Bersentuhan seperti ini adalah hal yang biasa. Bahkan hampir setiap hari kami lakukan ketika pergi bersama dengan teman yang lainnya. Sebab kami saling tari-menarik menuju tempat yang menurut kami menarik.
Di sini masih hening dengan gerimis yang tak berhenti. Aku menunduk. Kali ini kerinduan itu berubah menjadi perasaan abstrak  yang membuat hatiku terasa kelu. Setiap detak jantungku bagaikan jarum yang menyiksa dirinya sendiri.
Perpisahan satu tahun yang lalu itu, bolehkah kusesali hari ini? Pikiranku menggali kembali  menemukan ingatan pahit itu. Ketika hubungan kami menjadi hambar, begitu dingin sebab kebosanan yang melanda. Kecurigaan, rasa cemburu yang meledak menyebabkan pertengkaran mulut  yang  akan menjadi terakhir bagi kami.
Aku yang marah saat itu. Berurai air mata, dengan satu kalimat “putus”, kami berakhir. Aku ingat raut wajahnya saat itu. Kerutan di dahinya begitu dalam. Aku bisa mendengar tarikan nafasnya yang berat, menyayat-nyayat hatiku saat ini ketika mengingat kembali hal itu. Saat itu, aku bisa lihat dengan jelas matanya yang hampir basah, tapi ia menahannya agar tak bocor. Lalu ia berbalik, pergi meninggalkanku dengan punggung yang begitu rapuh.
“Ah, gerimisnya hampir reda,” gumamnya menarik jiwaku kembali dari masa lalu.
Aku memandang langit, mencari kebenaran kalimatnya. Rintik-rintik hujan memang tak serapat tadi. Langit violet juga sedikit lebih cerah. Kurasa udara juga tak sedingin tadi. Aku melirik pada tangan yang masih menggenggam tanganku. Masih erat dan terasa ramah. Aku melirik padanya, seakan mempertanyakan tindakannya. Ia hanya memberikan sebuah senyum ambigu. Seakan-akan sesuatu yang kusut berada di relung hatinya.
Sore yang semakin lama semakin senja telah menenggelamkanku pada masa lalu. Menarik kembali kenangan-kenangan juga perasaan yang pernah kurasakan padanya. Bolehkah aku bicara lagi? Bolehkah aku memperbaiki penyesalan yang baru saja kurasakan secepat ini?
Aku melepaskan tanganku dari genggamannya tetapi dengan lembut menyentuh lengannya. Aku menatap matanya dalam. Senyum ambigunya tak berubah. Sama seperti tadi tapi kali ini sedikit menyiratkan harapan untukku.
“Ivan, aku...”
“Selin,” suara dari lorong gedung memotong kalimatku.
Aku menoleh dan mendapati sesosok laki-laki tergesa-gesa berjalan ke arahku, membuat poni rambutnya yang pendek bergoyang-goyang. Segera aku menjauhkan tanganku dari Ivan.
“Maaf, kau menungguku lama. Rapat OSIS-nya baru saja selesai. Tadi sudah kubilang kalau kau mau pulang, pulang saja duluan, kan,” tangannya menepuk kepalaku lembut.
“Nggak apa-apa. Lagipula hujan. Aku nggak bisa pulang,” aku tersenyum padanya. Ia balas tersenyum. Senyumnya selalu ramah dan dewasa dengan bibirnya yang tipis. Ia melirik pada Ivan yang masih duduk di bangku dalam diamnya.
“Ivan. Kau nunggu Agnes, ya? Sebentar lagi juga dia akan keluar. Tunggu saja sebentar lagi,” ujarnya tetap dengan senyum ramah. Padahal ia tahu bahwa dulu aku dan Ivan pernah menjalin hubungan.
“Iya, Thanks,” Ivan membalas dengan senyum simpulnya.
“Masih agak gerimis. Tapi anak cewek nggak boleh pulang terlalu malam. Selin, nggak apa-apa, kan, sedikit basah?”
“Iya, nggak apa-apa.”
Ia melepas jaketnya dan meletakan di atas kepalaku untuk melindungiku dari hujan. Aku melirik padanya, berbicara dengan mata bahwa aku tidak apa-apa. Tapi ia juga bicara dengan senyum, mengatakan bahwa lebih baik aku terlindungi dari hujan. Ia menggandeng tanganku.
“Ivan, kami duluan, ya,” ujarnya.
Ivan hanya mengangkat tangannya untuk berkata selamat jalan. Aku melirik matanya. Untuk dua detik, dunia hanya milik kami. Ia tersenyum padaku, masih dengan senyum yang sulit kuartikan. Lalu aku kembali berbalik, mengikuti langkah kaki pemilik tangan yang menggandengku.
Beberapa langkah, kami telah cukup jauh dari Ivan. Aku kembali melirik ke belakang. Dari udara yang masih dibatasi rintik air, pandanganku masih bisa menembus, melihat Ivan di ujung sana sedang bersama gadis berambut hitam lurus yang panjang. Anak yang manis dengan sikap yang anggun. Sela-sela jari Ivan kini bukan aku lagi yang mengisi, tapi bukan juga kosong. Anak bernama Agnes itu kini menjadi pemiliknya.
Aku kembali berbalik, menatap tanah yang basah, lalu menatap lurus ke depan. Untuk beberapa jam aku kembali tertarik pada masa lalu, tenggelam hingga seakan-akan aku akan mati dan hidup pada masa lalu itu. Tapi aku tahu, waktu terus bergerak. Hati juga tak akan selamanya membusuk.
“Rian...,” aku memanggil laki-laki yang melangkah bersamaku sambil menatapnya pasti.
“Ya?” ia balik menatapku dengan mata yang teduh dan ramah. Aku menggenggam erat tangannya, berusaha agar ia tak lepas.
“Aku sayang padamu,” ujarku dengan senyum tulus. Ia balik tersenyum. Wajahnya tersipu di tengah rintik kecil yang membasahinya.
Kami masih terus melangkah, melawan rintik yang masih belum berhenti. Seperti  langkah kami melawan hujan, aku bertarung dengan waktu yang masih melekat padahal sudah mati. Seperti mendung yang akan hilang ketika matahari kembali dan tak sembunyi, aku akan tetap melangkah meski bayang-bayang masih mengikuti. Aku yakin suatu saat masa lalu itu akan lepas dan hanya akan jadi kisah yang diceritakan. Dan untuk saat ini, aku yakin bahwa laki-laki yang melangkah bersamaku sekarang akan membawaku pada masa depan yang lebih membahagiakan.
Read More