Tampilkan postingan dengan label letter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Harapan di Persimpangan


Ada yang mengatakan, setialah pada harapanmu. Tapi sampai kapan kita harus setia pada harapan? Sampai mati kah? Sampai harapan itu nyata kah? Tapi seandainya harapan yang selama ini ditunggu sesungguhnya tak pernah ada, sampai kapan kita harus setia, sedang kita tak tahu apa harapan itu sungguh ada atau sebatas fantasi belaka?

Ia tahu tentangmu dulu hanya sebatas wajah. Lalu nama dan pada akhirnya setelah satu dan hal lain sebagainya yang telah terjadi, ia mulai mengenalmu, saling bertegur sapa lewat jejaring sosial, hanya sebatas itu. Waktu terus bergulir kemudian mempertemukan kalian. Pada satu dua kali pertemuan itu, ada harapan yang tertanam di hatinya. Ada pintu yang sedikit mulai sedikit terbuka untuk cahaya masuk. Ada ruangan untuk menampung sikap dan kata-kata manismu padanya.

Ia terus menunggu, tapi kau tak kunjung datang. Yang bertandang hanya kata-kata manis darimu. Tapi apa yang ia harapkan tak pernah datang. Hingga akhirnya kau mengambil jalur yang berbeda, meruntuhkan apa yang telah ia bangun. Telah layu dan sekarat apa yang telah tumbuh di hatinya, menjadi parasit yang menimbulkan rasa sakit setiap ia mengingat kenangan yang terpatri di otaknya.

Ratusan hari dan ribuan jam telah mengalir. Rasa sakit itu masih ada tapi sedikit demi sedikit mulai mengabur. Entah ia telah terbiasa atau lelah sehingga ia lupa. Ketika ia pikir ia telah bangkit dan pergi dari persimpangan, kau kembali datang dengan sikap dan kata-kata manismu. Pendiriannya rapuh sehingga sekali lagi ia diam di persimpangan. Sekali lagi percaya pada harapan yang dulu pernah sekarat. Kembali tumbuh, terus berkembang. Harapan itu sudah semakin menjadi-jadi. Ketika ia menunggu pengharapannya menjadi nyata, kau kembali meninggalkannya, membiarkan yang telah tumbuh tak sempat memekarkan kembangnya. Sekarat sekali lagi, menimbulkan rasa sakit itu kepermukaan.

Dua-tiga kali kau datang dan pergi. Seharusnya ia tahu bahwa setia pada harapan yang kau bawa adalah tindakan sia-sia. Sesungguhnya ia tahu. Tapi perasaan itu selayaknya pohon yang mengakar pada tanah lebih dari ratusan tahun. Meski telah mati, meski telah ditebang, masih ada akar yang menancap di sana berusaha untuk tumbuh kembali meski tanah tempat ia berdiri mulai gersang. Padahal ia tahu seharusnya kau hanya menjadi bagian dari masa lalu yang hanya untuk dikenang. Tapi kenangan itu terus saja terseret pada waktu yang mengalir saat ini seakan-akan melawan arus.

Setialah pada harapanmu. Sampai kapan? Melebihi hitungan jari, ia terus bangkit dan jatuh karena percaya. Melebihi hitungan jari ia terkhianati karena setia. Sampai kapan ia harus setia seandainya harapan yang ia genggam sebenarnya tak pernah ada? Sekarang ia muak. Perih itu telah mencapai batasnya. Ada bagian dari dirinya masih percaya pada harapan yang kau berikan. Tapi kali ini ia berusaha kokoh pada pendirian yang mencoba untuk berhenti menggantungkan diri pada pengharapan yang tak pernah ada. Meski kadang perih itu membawa rindu, meski kadang kenangan itu menumbuhkan kembali tunas yang ia kubur, ia mencoba untuk percaya pada logika. Karena kata-kata manismu adalah omong kosong dan sikapmu adalah basa-basi, sesungguhnya ia mengerti bahwa pengharapan yang ia coba percayai dan setia tak pernah ada. Kali ini ia mencoba untuk melangkah lagi meninggalkan fantasinya meski kadang kenangan-kenangan dan perasaan manis-pahit itu mencoba menyandungnya dan menyeretnya kembali.
Read More

Rabu, 19 Maret 2014

Nebula Andromeda

Karena kamu terus berputar pada poros yang sama dan aku diam di satu titik dimana kita akan terus bersinggungan, waktu tak akan bisa mencair.
Padahal kamu tahu bahwa poros yang kamu kelilingi telah mati, sedangkan aku tahu menunggumu di titik kita saling bersinggungan tidak ada artinya.
Kita hanya saling menyakiti diri, berusaha menggantung pada ekspektasi-ekspektasi yang tak nyata.
Harus ada langkah yang diambil.
Entah itu dirimu yang beranjak dari pusaranmu atau aku yang harus bergerak dari titik itu,
mempertemukan kita, membuat kita bersilangan, atau bahkan tak menyatu sama sekali.  

Waktu tak mencair, tapi detiknya terus berbunyi.
Sedikit demi sedikit mencabuti sulur yang telah kupupuk untukmu.
Seharusnya aku bisa melangkah.
Tapi akarnya masih kukuh tertancap di sela-sela jantung.
Harusnya sudah terenyahkan apa yang pernah kurasakan untukmu.
Padahal kisah antara aku dan kamu, cerita tentang dia dan kau, sudah lama tidak terjamah, telah menjadi samar kabut di ingatanku.
Tapi selayaknya serpihan kaca yang pecah, seperti bayang-bayang yang tertinggal, ada yang masih terselip, meraungkan kerinduan.
Seperti setitik nila pada susu, ketika kita kembali bersinggungan, seakan-akan kamu menekan serpihan kaca, perasaan itu kembali meledak.
Selayaknya cahaya yang menguatkan gelap, bayangan itu semakin membesar, membungkusku dalam kehangatan yang lirih.
Pada akhirnya kakiku tetap memaku diri di titik fatamorgana yang kita ciptakan.  

Aku lelah untuk tetap berdiri di tempat.
Aku lelah berusaha untuk melangkah.
Aku lelah terus berpikir menjauh dari tempat kamu berputar pada poros itu.
Di sana, padahal ada poros yang menarikku untuk mengitarinya.
Tapi pada akhirnya gravitasi yang kamu timbulkan terus saja menarikku untuk tetap diam di tempat, tidak menarikku padamu, tapi tidak juga menjauhkanku.
Aku kesal, tapi pada akhirnya aku pasrah.
Kubiarkan kita terus tenggelam pada harapan-harapan yang melayang semu.
Kubiarkan kau terus sekarat, dan kamu terus membiarkan aku membenamkan diri dalam luka-luka yang kamu ciptakan, selayaknya masokis yang menikmati setiap rasa perih.
Hingga waktu akan mencair tanpa harus kamu berhenti berevolusi, tanpa aku yang harus enyah dari titik singgung.
Hingga saat kita saling bersinggungan tidak lagi menginduksi akar-akar kembali tumbuh, ketika kamu telah menemukan bintang porosmu dan aku mampu menemukan pusat kehidupanku.
Read More

Minggu, 07 Oktober 2012

Rinai Air Penutur Prosa



“Well then I give up if you just stop this whole thing altogether.
You used to be my trasure.
What if I say goodbye for the last time?
I’m closer than you realize” -  We Are The In Crowd, See You Around –

Lagu itu… Ya, mungkin kau bukan penggemar band Pop-rock sepertiku. Dan mungkin kau sama sekali tak mengenal band itu. Tapi lagu-lagu mereka, lirik-lirik yang terkandung di dalamnya… mengingatkanku padamu. Tentang kita, tentang waktu di antara kita. Mungkin kau sama sekali tidak tahu. Tapi kutuliskan sebuah prosa pendek untukmu, untuk mengenangnya, untuk mengakhirinya.
-o0o-
.
.
.
Rinai Air Penutur Prosa

Di kala hujan buku terbuka, kemudian ketika hujan pula lembaran habis untuk ditulis. Satu tahun antara hujan yang memulai dan rintik-rintik yang mengakhirinya, ada kisah antara aku dan kau yang melibatkan hati satu pihak. Ada sulur yang mati sebelum mengembangkan bunganya. Ada jeritan sunyi rintihan tangis terkubur di antara kata-kata manis.
Kala itu hujan. Awan sama sekali tak memberikan celah pada birunya langit. Ia berkuasa dengan kelabunya yang menutupi bias mentari.
Kala itu hujan. Riuh hantaman tetes-tetes air di atas atap seng membaur dengan suara detik jam yang terdengar keras. Bau tanah basah yang khas tercium dengan debu-debu yang menjadi berat untuk berterbangan.
Lidahku kelu, otakku mati untuk berpikir di kala kau diam duduk di hadapanku. Seakan-akan udara memadat, punggungku berat oleh kecanggungan yang mengalir, memaksa aku untuk terus menunduk memandangi layar ponsel, kadang dua mangkuk kosong di atas meja meski mataku sungguh ingin sekali memandangimu. Ruangan empat kali empat meter itu sungguh terasa semakin menyempit.
Rinai hujan masih membaur dengan detik-detik yang masih berputar. Telingaku peka di antara riuh mendengar jemarimu yang mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan bosan. Sesekali kau menoleh ke luar jendela, memantau kerapatan molekul-molekul air yang masih menguasai udara. Aku tahu sebab telingaku peka pada suara gerakmu meski irisku tak mau lepas dari layar ponsel atau dua mangkuk kotor yang terabaikan olehmu.
Masih dikuasai hujan. Sedetik kemudian aku sadar bahwa ada satu suara lagi yang membaur menguasai ruang di antara kita. Datang dari ruang antara rusuk-rusuk, terdengar samar kemudian semakin jelas. Mungkin kau tak mendengar sebab kau sibuk menyamakan ritme ketukan jari dengan detik yang berlalu tanpa sadar. Tapi lalu aku paham. Benih yang sengaja kusimpan dalam gersang, kini hujan telah menyiramnya. Terlanjur. Satu sulur mulai timbul, lembar pertama telah terbuka. Hujan menyadarkanku bahwa kau adalah lakon dari bagian kisahku.
Hujan berhenti. Aku menulis, merekammu sebagai memori-memori tak ternilai. Merekam satu-dua kalimat manis darimu yang terus kubaca meski aku tahu tak pernah satu kata pun yang kau rangkai adalah suatu kebenaran. Tapi, hei, kebohongan itu telah menjadi fakta dalam kehidupanku meski mustahil menjadi realita.
Satu tahun… Ya, kurun waktu itu hujan kadang-kadang bertamu. Tapi bukuku belum tertutup. Aku masih sibuk menarikan pena, menjadikanmu semakin berperan dalam kisah itu. Menuliskan semua laku manismu sebagai injeksi euforia dalam darah yang mengalir. Kau telah menjadi bagian yang sangat penting, kadang mengarahkan alur tanpa kusadari.
Kembali hujan menyapa. Satu tahun setelah rintik yang menyiram benih. Kali ini hujan datang untuk mematikan akarnya, membuatnya tenggelam lalu mati. Riuh suaranya menarikku dari fantasi.
365 hari hidup dalam kebohongan yang selalu aku ketahui. Sejak awal, sejak sebelum hujan membuka lembaran pertama, kita memulainya dengan keterusterangan tentang dusta. Kita memulainya ketika kekosongan sama-sama saling mengisi, ketika goyah dan butuh pegangan.
Tapi tiap detik adalah delusi yang semakin jelas sebagai fakta. Terasa begitu nyata. Aku jatuh pada fantasi, semakin jauh dari realita.
Kala itu hujan. Dering ponsel yang khas mengantarkan untaian kata yang kau rangkai. Kali ini bukan untuk menginjeksikan euforia pada darah yang mengalir. Tapi sebagai ribuan jarum yang menyumbat pembuluh darah. Sirkulasiku terhambat. Sarafku seakan mati membiarkan udara sulit bertukar. Terenyuh, satu bagian di belakang tulang dada terasa nyeri dengan ketukan-ketukan yang anarkis. Kau… bangunkan aku dari dimensi ilusi.
Kala itu hujan. Rintik-rintik semakin merapat. Hampir tak ada celah untuk udara oleh molekul-molekul air. Tak ada celah untuk biru oleh kelabunya awan. Sama seperti aku yang terus mencari pintu masuk, tak ada celah di antara kebohonganmu.
Seandainya memang kau ingin menghentikan semua dimensi ilusi di antara kita, aku bangunkan realita. Pada lembar terakhir, kutuliskan selamat tinggal dengan tinta putih. Cerita fantasiku telah berakhir. Meski ketukan-ketukan anarkis masih belum tenang, kututup buku bersamaan dengan rinai-rinai yang hampir berhenti.
-o0o-
Read More

Minggu, 12 Februari 2012

Dear Someone - Some Lyrics for Some Feelings

Some Lyrics For Some Feelings
By Firdausi R.
Read More

Jumat, 02 September 2011

Dear Someone - Kepada Engkau yang Singgah di Pelabuhan

Kepada Engkau yang Singgah di Pelabuhan
Original by Firdausi
(Inspired by Gina's True Story) 

Seandainya bisa, mungkin ia akan memutar waktu kembali pada saat ia belum mengenalmu. Tapi tidak mungkin karena sang pemilik waktu terus menggenggam arlojinya.

Dulu tak sekali pun ia berpikir kau akan singgah dan mengisi kehidupannya sebagai pendamping sang tokoh utama. Dulu tak sekali pun ia sebegitu menginginkan dirimu. Dulu tak sekali pun ia berpikir kau memiliki kunci untuk lubang pintu miliknya. Tak pernah sekali pun, dulu…

Tapi beriringan dengan pasir yang terus jatuh dalam kaca, kau perlahan meniupkan angin lembut masuk ke hatinya. Beriringan dengan denting pendulum, ringan langkahmu mendekati pintu hatinya. Beriringan dengan tiap detak jantung, kau akhirnya membuka pintu dengan kunci yang kau buat. Beruntung, kuncimu sinkron dengan lubangnya.

Tiap alphabet yang kau rangkai yang menyirami bunganya. Tiap alunan suaramu yang membuatnya bergantung pada akar-akar hatimu. Tiap kata yang disusun dengan lima huruf alphabet yang kau ucapkan telah berhasil membuatmu menjadi bagian sel tubuhnya.

Ingatkah kau ketika kau memberinya sebuah kejutan hanya dengan sebuah cake yang berantakan? Mungkin kau pikir itu tak layak untuk menjadi hadiah. Tapi baginya, itu adalah benda paling berharga selama ia hidup. Seandainya bisa, mungkin ia akan menyimpannya dalam museum miliknya sendiri.

Kau… sungguh telah menjadi satu hal terindah dalam hidupnya. Sayang kapalmu hanya singgah dan tak bertahan lama karena jangkarnya telah kau tarik kembali.

Ketika ia pikir kau akan menjadi seseorang pertama hingga akhir hidupnya, kau dorong ia mendekati tebing. Ketika ia pikir kau adalah semilir angin hangat, kau telah menjadi badai yang menghempas perahunya. Ketika ia pikir kau adalah mataharinya, ternyata kau adalah kilatan yang menjadi petir pada hujan yang tiba-tiba mengguyur.

“Aku ternyata masih suka dia.”
Mungkin kau juga tak mudah mengucapkan kalimat itu. Kurasa lima kata itu begitu berat hingga mungkin lidahmu kelu. Tapi hatimu tak ingin terbagi dan ia tersakiti hingga dengan susah payah kau bicara. Sayang, kata itu pun telah berhasil menggigit hatinya hingga nyeri.

Seandainya waktu adalah pendulum, ia berharap waktu berhenti sebagaimana pendulum berhenti bergerak dan tak usah berputar lagi hingga rasa sakit itu tak membuatnya terkungkung dalam hujan yang tak mampu reda. Kini langitnya benar-benar kelabu dan hampir hitam. Seandainya hanya dengan merebahkan jam pasir waktu tak lagi berdetik. Sayang sang pemilik waktu tetap membuat dunia berputar pada sumbunya.

Ia berdiri di ujung tebing dengan kaki yang hampir tak sanggup menopang tubuhnya. Berkali-kali ia jatuh pada jurang, tapi berkali-kali ia merangkak ke atas. Ia tetap melangkah dengan gontai. Tapi tanah yang ia pijak bagaikan lumpur hisap hingga ia berkali-kali lagi jatuh pada gelap.

Kau sebenarnya tahu, bukan? Kau adalah satu hal yang ia hargai mahal untuk pertama kalinya. Kau adalah nelayan pertama yang berhasil menangkapnya. Kau adalah perahu yang berhasil singgah di pulaunya. Dan itu pun… untuk pertama kali.

Dan kau pasti tahu, bukan? Kau yang memberinya rasa sakit untuk pertama kalinya. Kau yang berhasil mengukir nama di dinding jantungnya dan kau pula yang berhasil mengoyaknya hingga nama itu tak terbaca lagi. Tapi sebagaimana pohon yang kulitnya digores akan mengeluarkan getah, ia pun berdarah saat kalimatmu berhasil menggigitnya. Itu… sungguh sakit. Bahkan aku bisa merasakan pedih dari luka yang telah kau buat untuknya. Sayang, ia bukan pohon yang hanya bisa diam ketika dilukai. Ia menangis dalam setiap lembayung kelam dan bulan kadang memperhatikannya.

Hujannya masih tak mampu berhenti. Kadang tak sederas itu, tapi langit masih saja abu kelam. Ketika ia berusaha mengajak matanya berkeliling,  hanya kau yang selalu berhasil  ia tangkap. Kemudian hujan itu akan kembali mengguyur dengan derasnya. Lalu kembali bulan yang berusaha menariknya agar tak terlalu dalam jatuh pada gelap.

Sahabat…
Kau bilang padanya bahwa menjadi teman lebih baik, kan? Kau tak tahu betapa sulitnya menjadikanmu seorang sahabat untuknya ketika kau berhasil menjadi tokoh utama dalam cerita hidupnya lalu kau mundur dan menjadi figuran yang akan menopangnya. Bagaimana? Ketika kau telah meretakkan satu persatu dinding rumahnya, bagaimana kau bisa menjadi tiang yang akan mengokohkannya? Kurasa tidak mungkin selama engkau masih menari di setiap tarikan napasnya.

Waktu masih terus berjalan, merajutkan kenangan di setiap helai kain kehidupannya. Saat ini ia masih melekatkan topeng di atas air mata yang tak berhenti mengalir.

Seandainya waktu berhenti…

Tapi harapan bodoh itu tak berguna. Berharap waktu berhenti, tapi darah dari luka itu masih terus mengalir. Jadi aku berdoa untuk ia dalam waktu yang tak pernah berhenti bahkan sejenak itu agar membawa pergi setiap luka di setiap detik yang berbunyi. Kuharap banjir kesedihan itu akan tertimbun oleh butir pasir yang jatuh dalam tabung kaca. Ia akan kembali melangkah bukan pada tanah berlumpur hisap. Dan aku mohon pada sang waktu untuk membiarkanmu mengisi kisah ia yang telah mencurimu dengan akhir yang bahagia.

Kuharap seperti itu…
__________________________________________________________________________________

N.A: Kalau nggak terlalu mirip aslinya, I'm so Sory :P
Read More

Sabtu, 27 Agustus 2011

Dear Someone - Untukmu, Antara Kita dan Satu Jengkal Jarak


Untukmu, Antara kita dan Satu Jengkal Jarak
Original by Firdausi

Taukah kau pada Orihime dan Hikeboshi?
Mereka sepasang kekasih yang dipisahkan oleh galaksi.
Sama seperti kita yang tak bisa saling menautkan tangan saat ini.

“Liat, jika kau ukur jarak di peta antara aku dan kau hanya sejengkal saja.”
Satu jengkal…
Terlihat begitu dekat, bukan? Sayang aku bukan manusia dengan akal sesederhana itu.
Coba kau tatap kenyataan dan jangan berdiam pada fantasimu.
Ketika kau telah menempatkan dirimu di kota itu,
satu jengkal itu telah berubah menjadi ribuan kilometer.
Pada jarak satu jengkal itu, coba kau hitung berapa makhluk yang dapat menempatinya.
Pada jarak satu jengkal itu, membentang laut yang berpalung-palung.

“Kamu apa kabar?”
Jariku menari di atas papan tombol mengetikkan kebohongan yang kusuarakan.
“Aku baik-baik saja” adalah selimut yang menutup-nutupi kegelisahanku.
Di sudut hatiku terasa kosong ketika mata tak mampu menggapaimu meski seluruh dindingnya mengukirkan namamu.
Aku hampir gila ketika setiap syaraf otakku mengelu-elukan namamu namun engkau tak kunjung menjawab panggilan massa yang mulai anarkis.

Aku marah pada jarak yang tak mampu mempertemukanku denganmu.
Tidakkah Hikoboshi merasa kesal ketika ia hanya bisa bertemu Orihime pada hari ke tujuh bulan tujuh setiap tahunnya?
Aku tak bisa sesabar ia yang menunggu Kisasagi membentuk jembatan.
Bahkan tak satu pun keajaiban yang bisa mengisi sela jarimu ketika aku ingin mendekapmu erat.
Aku iri pada Hikoboshi yang bisa menyeberangi Amanogawa hanya karena sekumpulan burung berbaris di atasnya.

“Jika kau rindu aku, pejamkan matamu.”
Kututup kedua kelopak mataku.
Di antara ruang hampa yang hitam itu, ada sosokmu yang medominasi.
Begitu jelas, sebab setiap detikku telah melukis tiap detil dirimu.
Aku rindu hingga hampir hilang akal.
Kau bilang, jika rindu pejamkan mata.
Lalu apa yang terjadi?
Sosokmu memang jelas terlukis pada kegelapan tanpa sudut itu, tapi kerinduan ini semakin dalam tergali.
Aku terlalu realistis hingga ilusi akan dirimu tak mampu mengobati tiap luka yang tercipta ketika satu jengkal mengoyak dengan kerinduan.
Saat kupejamkan mata, justru air mata yang meluncur dari pelupuk yang tertutup.

Kau dan aku di bawah langit yang sama.
Tapi mengapa langit begitu luas hingga jarak antara kau dan aku semakin jelas?
Akankah matahari yang kulihat pada posisi yang sama di tempatmu?
Ketika hujan mengguyur tanah, akankah langitmu abu-abu?
Mengapa langit begitu luas?
Saat kulihat burung dengan anggun terbang mengudara, kutitipkan salam untukmu.
Akankah kau mendengarnya?
Tidak, sebab jarak langit juga satu jengkal memisahkan kita.
Ketika angin menyapa, kubisikkan cinta untukmu.
Tapi kata itu menyangkut pada ranting yang bergoyang dan daun-daunnya yang bergesekkan hingga bisikan itu tak terdengar kembali.

Pada satu jengkal jarak, ada keragu-raguan yang menyulur perlahan.
Ia tumpang tindih bersama kepercayaan yang telah lama merekah.
Kepercayaan itu bukan menipis.
Hanya saja setiap kali lubang itu terasa nyeri, ia memunculkan pertanyaan.
Akankah kau menjadi Orihime-ku yang sanggup bertahan pada kesepian selama ratusan tahun?
Bahkan aku ragu  menjadi Hikoboshi-mu.
Bukan karena merah telah kelabu. Bukan!
Tapi aku lelah pada keragu-raguanku.
Namun kupupukkan cinta di setiap akar kepercayaan.

Aku ingin bertarung dengan jarak bersama waktu yang kian melambat.
Kubunuh kebosanan dengan menjadikan kenangan sebagai senjata.
Kututup tiap lubang dengan jutaan namamu yang kugumamkan meski mudah untuk menggalinya lagi.
Jika lubang itu kembali lagi, realita pada masa lalu yang akan kembali menutupnya.
Aku akan bertahan selayaknya Hikoboshi yang mencintai Orihime
Sebab kisahku tak akan selesai jika kau tiba-tiba menghilang dari sejarah.
Sebab aku adalah hujan tanpa awan jika aku tak mampu bertahan bersamamu.
Aku akan bertahan, melayukan sulur keragu-raguan dan menyelimuti diri dengan kepercayaan yang begitu rapuh.

Sekali lagi kukatakan aku rindu padamu.
Kali ini kutitipkan pesan pada Tuhan.
Ia akan menyampaikan dengan mengantarmu pada gerbang mimpi yang indah.
Layaknya Hikoboshi dan Orihime yang bertemu di tengah jembatan Kisasagi di atas galaksi,
Kita bertemu pada mimpi yang Ia tulis di bawah kesadaran akan realita.

Read More

Rabu, 24 Agustus 2011

Dear Someone - Untukmu, Antara Kita dengan Sang Waktu


Untukmu, Antara Kita dengan Sang Waktu
Original by Firdausi

Waktu itu begitu kejam mengontrol hidup dan perasaan.
Ia terusberputar pada arah yang sama, tapi kita bukan pada lingkaran.
Mendesak untuk melangkah dan membuka dunia lebih luas

Pada waktu yang disebut “masa lalu”, rumahku ada pada dekapanmu.
Setiap aliran darah membawa hangat dari tiap sentuhanmu.
Duniaku tak meluas saat itu.
Hanya berevolusi dengan kau sang pusat bintang.
Seakan-akan kacamata kuda melekat, mataku hanya bisa lurus dan kau yang ada di hadapanku.
Duniaku masih sempit, masih nyaman pada sangkar yang mendekapku.

Daun gugur kemudian bunga kembali merekah.
Pada empat musim, waktu memecutku menengok sisi lain.
Kini waktu telah mencapai “sekarang”.
Aku hilang hasrat.
Seakan-akan kehilangan gravitasi, aku tak tentu pada orbit.
Dekapan itu terasa mulai dingin.
Dan rumahku tak senyaman dulu.
Seakan-akan debu menyeruak hingga sulit untukku bernapas.

Tak ada yang salah pada bintang yang terus kuputari.
Tak ada yang salah pada sangkar yang kusinggahi.
Mereka tetap sama, dengan cahaya yang sama.
Mungkin karena aku bosan.
Dan sebab waktu yang disebut “sekarang” itu telah menamparku hingga aku menoleh dan kacamata itu telah lepas.
Kutemukan ia ketika jangkrik sibuk bersorak memuja matahari.
Kutemukan bintang yang lebih terang.
Kutemukan langkah yang lebih anggun.
Kutemukan sayap yang lebih cantik dalam duniaku yang kian melebar.

Aku ingin mengorbit padanya.
Ingin mengikuti tiap langkah kaki yang melangkah anggun itu.
Aku ingin melanglang buana dengan sayap seringan kapas itu, saling bertabrakan dengan awan, tapi kami tertawa bersama.
Aku ingin seperti itu.

Namanya masih sama, “Sekarang”.
Waktu memang kejam, bukan?
Ketika namanya masih “sekarang” dulu, mulutku berani berjanji setia padamu.
Aku bahkan rela menukar jiwaku pada iblis hanya untuk bisa bersamamu jika memang itu yang harus kulakukan.
Pada “sekarang” dulu,
Aku sanggup membuatmu tersenyum hanya karena satu sentuhan yang membelai rambutmu.
Aku sanggup membuatmu menari girang ketika satu pujian terlontar.
Aku mampu sebab ketulusan yang kuberikan padamu.
Aku mampu sebab kutitipkan sebagian hatiku padamu.
Tapi nama itu berubah menjadi “masa lalu” dan peristiwa adalah keabstrakan yang menjadi kenangan.

Tulus itu telah menguap hingga hanya kepalsuan yang mengelusmu.
Yang kau genggam hanya ilusi dari hati yang telah kuambil kembali.
Mulut ini penuh dosa karena waktu.
Aku tak sanggup menembakkan puji-pujian padamu karena waktu telah mengubahnya menjadi kebohongan belaka.
Lidah ini menghitam ketika sebuah janji telah terucap, ia pula yang mengucapkan ingkarnya.

Pada waktu “Sekarang” saat ini,
Kau menangis ketika kejujuran baru telah kudeklarasi.

Aku tahu hampir membunuhmu dengan rangkaian kata bagai pecahan kaca yang merobek isi hatimu.
Aku tahu rasa sakit itu telah membuatmu sulit menemukan pijakan yang tepat.
Aku tahu aku yang telah menggerogoti tiap helai bulu pada sayapmu.
Aku tahu aku yang membuat sulur hitam tumbuh dan mengikatmu liar.

Ketika satu bulir bening jatuh dari pipimu, seakan-akan ada palu yang mengetuk di sekitar rusukku.
Ketika angin menyampaikan suara isakmu, kau mengambil satu napas oksigenku.
Tak apa-apa karena aku mengerti yang hampir mati adalah kau yang tercekat ketika sulur mencekik lehermu.

Maaf…
Mengertilah, aku tak mampu melihat kau berdendang dalam kepalsuan
Mengertilah, aku tak sanggup menjadikan mulut ini pendusta ulung.
Karena ketika kau menciptakan suatu kebohongan, maka akan tercipta kebohongan yang lain.
Begitu terus hingga kau tak mampu bicara tentang kebenaran.

Waktu memang kejam, bukan?
Dengan hanya berputar pada dua belas angka, ia mampu mengubah emosi perasaan.
Pada waktu yang sadis itu, aku mohon padanya.
Ketika ia menjadi “masa depan”, kuharap kau kembali tersenyum dengan pijakan yang kokoh dan langkah yang lebih anggun.
Aku memohon ketika ia adalah “sekarang” untukmu yang telah aku dorong pada bebatuan karena waktu.
Kulakukan untukmu selama ia masih “sekarang”.
Sekedar berdoa dan memohon yang mampu kulakukan untukmu.
Hanya itu…

Read More

Dear Someone - Kepada Engkau, Cinta Pertama


Kepada Engkau, Cinta Pertama
Original by Firdausi

Bersamaan dengan mekarnya bunga, ada bulu-bulu sayap yang gugur
Ketika ada senyum yang terkembang, ada air mata yang mengikuti jejaknya

Katakan padaku, mengapa setiap desiran angin membawa namamu masuk dalam otakku?
Katakan padaku, mengapa setiap suara menyorakkan namamu?

Gilakah aku?
Akal sehatku melayang setiap kali kau menggelitik gumpalan darahku.
Bahkan aku hapal seberapa ringannya langkahmu meski hanya mendengar sayup-sayup
Mataku sering mengintip diam-diam dari balik jendela, menikmati setiap detil wajahmu, menikmati lekuk tubuhmu.

Anehkah aku?
Katakan padaku, mengapa suaramu menciptakan petikan lagu bersamaan dengan dentuman yang terus berpacu semakin kencang?
Sakitkah aku?
Setiap inci senyummu membuat jiwaku menari-nari liar

Matamu berkeliling, sepintas memerangkapku.
Sakitkah aku?
Suhu tubuhku kian meningkat ketika aliran darah terpusat di kedua pipiku
Dalam satu detik itu ada harapan akan diriku yang kau rekam dalam ingatanmu.

Aku diam sambil terus mencuri waktu melukis tiap gerikmu dalam album abadi.
Kubiarkan diriku bersembunyi di balik jarum yang terus bergerak.

Satu bulan… kemudian tiga puluh hari matahari terus berganti-gantian dengan sang bulan.
Ketika hari terus berjalan dalam lingkaran yang sama, ada perpisahan di ujung sebuah pertemuan.
Bahkan di antara kau dan aku yang tak pernah sekali pun sempat bertukar suara.
Aku mengerti, aku tahu.
Lalu kenapa seakan sesuatu telah meremas jantungku dengan genggaman yang begitu kuat?
Kenapa seakan ada racun yang mengikat darahku hingga tiap organ tubuhku tak mampu bekerja?
Kurasa ada kerusakan pada mataku hingga ia tak berhenti menyapu lensa dengan cairannya.
Paru-paruku, ia rusak hingga menampung udara pun terasa berat.

Kini bukan hanya gila, aku hampir mati.
Jiwa yang terus menari liar itu telah berhenti.
Iring-iringan musik menjadi balada kematian di tengah sayup-sayup yang hampir meniupkan lilin-lilin yang semakin kecil.

Katakan padaku, kenapa kau sanggup menancapkan kesepian pada jiwaku?
Katakan padaku, kemana kau bawa senyum yang kau curi dariku? Kau buang kemana ia?

Kau curang!
Ketika aku terkurung pada dunia yang menggilaimu, kau tetap melenggang di atas duniamu tanpa acuh pada aku yang terus mengetuk sangkarmu.
Kenapa? Kontrolku mati, aku di batas normal.
Kau ini apa? Sebenarnya kau ini siapa?
Aku melayang-layang lalu terjun dengan sendirinya karenamu.
Kenapa padamu aku berikan kuasa?
Tanpa akal sehat, aku menari di telapakmu.
Kenapa?

Cinta…
Mereka bilang begitu

Read More