Tampilkan postingan dengan label angst. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2012

In Heaven


In Heaven
Oleh Firdausi
Read More

Rabu, 12 Oktober 2011

Paranoid


Paranoid
Original story by Fidausi

Matahari telah membiaskan warna oranye-nya pada awan-awan yang menggumpal dengan lembutnya entah sejak kapan. Dari jendela besar terlihat ranting-ranting kering pohon yang cukup lama hidup di tempat itu kadang-kandang mengetuk saat angin sepoi singgah menyapanya. Kadang-kadang angin yang menyusup melalui ventilasi menyebarkan bau khas buku-buku tua yang cukup berdebu.
Di tengah keheningan tanpa manusia lain, aku berkonsentrasi mencoba merasuki buku yang ada di hadapanku, mencoba merasuki jiwa tiap tokoh yang mengalami petualangan hebat dari rangkaian alphabet yang tersusun hingga memiliki sebuah makna.
Ketika aku mengaitkan rambut yang mulai mengganggu jarak pandangku, suara kursi di depanku yang digeret menjadi gangguan yang lain. Aku tak mendongak untuk melihat siapa yang berusaha menggangguku karena aku tahu itu dia. Aku kembali berjalan-jalan dalam alur buku petualangan yang sibuk kubaca.
Ia duduk di depanku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hening. Yang terdengar hanya suara gesekan lembaran kertas buku yang dibalik olehku maupun dia. Bahkan suara napasnya yang tenang pun bisa terdengar samar di telingaku. Aku mulai tak nyaman pada keheningan ketika ada seseorang yang ikut membaca di tengah dunia imajinasiku.
“Ngapain ke sini?” aku mulai memecah keheningan tapi masih fokus pada buku yang kubaca.
“Cuman sedang senggang,” jawabnya yang tidak bisa lepas dari buku pula.
“Nunggu pacarmu, ya?”
“Hemm.”
Kembali hening. Aku keluar sebentar dari dunia buku dan memperhatikannya dengan mata sembunyi-sembunyi. Kulihat ia menopang dagunya. Matanya menatap lurus dengan serius menangkap tiap kata yang ia baca agar otaknya mudah mencerna. Rambutnya yang berponi cincag pendek kadang-kadang bergerak gemulai saat ia mengubah posisi wajahnya; masih dengan menopangkan dagunya.
Laki-laki itu…semakin terlihat dewasa di mataku entah sejak kapan. Tujuh belas tahun bersamanya, semakin hari semakin aku melihatnya sebagai seorang pria. Sejak suaranya mulai serak dan menjadi rendah. Sejak tulang wajahnya begitu sempurna. Sejak ia menyaingiku dalam tinggi badan. Sejak tangannya… mampu menggenggam tangan orang lain.
“Pacarmu sedang apa?”
“Kegiatan klub. Dia memang aktif di klub-nya,” ia menjawab dengan senyum simpul di wajahnya. Masih tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
“Kau… cinta padanya?”
Ia hanya mengembangkan senyum yang ambigu. Entah apa artinya, tapi senyum itu mampu menggigit hatiku hingga nyeri. Aku berusaha tenang dengan tak menunjukkan ekspresi apa pun.
“Nggak usah mengurusi orang. Kau sendiri kapan cari cowok yang bisa melindungimu?” kali ini matanya menatap lurus mataku. Aku menunduk.
“Itu….” Kalimatku seakan-akan menyangkut di tenggorokanku.
Ia seakan tak peduli, terdengar suara gesekan kertas saat ia membalik halaman buku yang ia baca. Aku menghela napas berat, menunduk dalam-dalam menyembunyikan kerutan alisku yang semakin dalam. Menyembunyikan kekalutan hatiku yang semakin menjadi-jadi.
“Aku takut,” gumamku.
“Hmm?”
“Menurutmu… apa manusia itu akan dengan mudahnya jatuh cinta pada seseorang lalu kemudian dengan mudah mencintai orang lain?”
Ia kembali menatapku. Matanya lurus dan serius. Kurasa tak ada lagi niat untuknya membaca buku. Topik yang kubuka kali ini lebih menarik perhatiannya.
“Nggak semua manusia begitu mudah pindah ke lain hati.”
“Kau… bagaimana?”
“Apa karena rasa takutmu itu kau menolakku dulu?”
Ia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang menyulitkanku. Aku menggeleng cepat, tapi aku tahu kepura-puraanku telah terlihat jelas. Ia masih tak bicara menunggu jawaban dariku. Matanya tak mau lepas hingga aku hanya bisa duduk dengan ketegangan di depannya seakan-akan didakwa di meja hijau.
“Orang bilang… ketika dua orang menjadi sepasang kekasih, rasa sayang itu akan hilang setengahnya. Ketika perasaan itu hilang setengahnya di awal, sampai kapan ia bisa bertahan dengan perasaan yang tinggal separuhnya itu? Lama-lama perasaan itu pula akan hilang bersamaan detik yang tak berhenti berbunyi.”
“Lalu bagaimana dengan mereka yang telah menjadi tua renta dan hidup mati bersama? Apa menurutmu mereka bersama hingga mati tanpa perasaan itu? Kau… sungguh bodoh.”
“Bukan. Aku mengerti. Tidak semua manusia di dunia menhilangkan apa yang ia dapatkan. Tapi… apa aku bisa mendapatkan orang yang sanggup bersama denganku hingga kematiannya menjemput?”
“Kau… kau sendiri, menurutmu kau orang yang bagaimana? Semudah itukah kau melupakan orang yang kaucintai?”
Sekali lagi aku menggeleng. Kali ini aku menggeleng dengan kesungguhan hati. Air mataku pun mulai tak terbendung. Kekalutan hatiku sungguh telah menguasai diriku sepenuhnya. Aku memeluk diri.
“Aku bukan orang yang semudah itu melupakan orang lain. Tapi aku takut dicintai kemudian dilupakan ketika aku sungguh-sungguh ingin bersamanya.”
“Aku juga, bodoh!” Ia meradang. Emosinya meninggikan suaranya hingga ia menghentak meja ketika berdiri. “Aku sungguh menyayangimu, Lys.”
Kulihat di wajahnya adalah keseriusan dari dalam dirinya. Kulihat matanya yang teduh menatapku lembut. Kerutan di keningnya menjadi pengakuan dirinya secara tak langsung bahwa selama ini ia menahan rasa sakit yang luar biasa. Tapi aku tetap tak mau menghadapi kenyataan itu.
Aku mencintainya, sungguh. Ia satu-satunya lelaki yang mampu merasuki dinding hati yang tebal itu. Hatiku mengerti, tapi logikaku tak mau diajak bekerja sama. Ia terus membantah apa yang diteriakkan oleh hati yang semakin tersiksa. Sesungguhnya, logika hanya tak ingin hati terluka saat waktu nanti membawa sosok laki-laki itu pergi. Tapi hati sudah terlanjur terluka. Dan konflik dalam diriku menghancurkan aku.
Aku kenal dia sejak aku bisa bicara, berjalan, dan tahu apa itu bermain. Aku kenal ia sejak tinggal di sebelah rumahnya. Aku tahu sifat-sifat jeleknya. Aku tahu kebaikan-kebaikannya  yang mampu menyelimutiku dalam kehangatan. Dia… satu-satunya laki-laki yang mengenalku lebih dari siapa pun.
“Kau bohong.”
“Apanya?! Aku nggak pernah bohong padamu. Aku mencintaimu, Lys. Sungguh.”
“Jika kau mencintaiku, lalu untuk apa kau bersama dengan gadis lain? Kau benar-benar nggak tahu hatiku terenyuh setiap kali kau cerita tentang kekasihmu itu.”
“Kau yang bodoh, kan? Kenapa nggak sejak awal kau bilang bahwa kau juga suka padaku?”
“Kupikir… daripada kehilanganmu ketika aku sudah benar-benar memilikimu, lebih baik tetap menjadi teman sejak kecil saja. Kupikir ketika aku tak perlu memilikimu, aku bisa memiliki hatimu yang hanya tertuju padaku. Kupikir begitu. Pada akhirnya kau sungguh berjalan mengikuti waktu yag membawamu pada gadis itu.”
Aku memandangnya. Segelintir senyum menengahi air mata yang tak berhenti jatuh di pipiku. Aku berusaha tenang dengan menarik napas dalam di tengah isak tangisku yang tak terkendali.
Samar-sama kulihat alis matanya semakin dalam mengkerut saat lensa mata kabur oleh air mata. Ia gusar dan meradang. Ia beranjak dari tempat duduknya, dengan kasar menjauhkan kursinya hingga bunyi geretan di lantai memekakkan telinga. Ia menarik tanganku yang menutupi wajahku yang basah seluruhnya.
“Aku nggak terbawa oleh waktu!” ia berseru.
Matanya sungguh-sungguh ingin merasuki diriku, berusaha membujuk logika yang masih dengan keras kepalanya menolak keberadaan laki-laki itu di hatiku. Aku menggeleng, masih berusaha menolaknya.
“Dengar aku, Lys! Sampai detik ini aku masih memikirkanmu. Aku berusaha dibawa oleh waktu dengan mencoba bersamanya. Tapi aku terlalu kukuh terpaku pada sosokmu.”
Ia menarikku ke dalam dekapannya. Lengannya yang membelitku sungguh sangat kuat hingga napasku terasa sesak. Entah karena kekuatan dekapannya atau perasaanku yang ingin muntah meledak, jantungku semakin cepat mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Lengannya seakan-akan tak mengijinkanku untuk pergi sekali lagi. Tangannya seakan-akan berkata bahwa aku adalah sesuatu yang berharga baginya.
Aku tak mampu untuk melepaskan diri. Kudongakkan kepala untuk melihat wajahnya. Kini matanya mampu rasuk pada jiwaku. Bibirnya berkali-kali membisikkan kata cinta di telinga. Aku… luluh untuk saat itu. Ia perlahan mendorongku pada lemari buku di belakang meja tempat kami bersama tadi. Bibirnya mulai melumat bibirku.
Napasku sesak. Setiap kali ia melumat bibirku, setiap saat itu pula aku bisa mengerti seberapa besar rasa sayangnya padaku. Tiap momen yang ia buat, mengalirkan kehangatan pada diriku. Tangannya erat merangkul pinggangku dan aku semakin tak berdaya. Ia terus memukul hancur dinding pertahananku. Logikaku hampir mati ketika oranye langit telah berubah menjadi kebiruan. Hingga akhirnya suara pintu terbuka, membangunkan kembali kesadaranku.
Aku melepaskan bibirku dari bibirnya yang begitu lembut. Tapi aku tak mampu keluar dari lingkaran tangannya. Napasku memburu, begitu pula ia. Hanya saja kami berusaha agar napas itu tak terdengar oleh siapa pun.
Kami tetap bersembunyi di balik rak buku tinggi dengan buku-buku yang tersusun rapat serta rapi hingga mampu menutupi keberadaan kami. Aku tak mampu menatapnya. Tapi aku tahu bahwa matanya tak lepas dariku. Ia mencari-cari sebuah jawaban.
“Ray, kau di sini, kan?”
Kudengar sebuah suara tinggi seorang wanita memanggil laki-laki yang sedari tadi tak mau melepaskanku. Laki-laki itu tak menjawab. Ia hanya fokus berusaha mencari celah untuk kembali masuk ke dalam diriku. Tapi aku tetap menunduk dalam-dalam.
“Lys... Tahan aku, kumohon,” ia berbisik getir.
Aku diam sesaat kemudian mengambil oksigen untuk kembali menenangkanku. Kali ini aku memandang laki-laki itu. Kuberikan ia sebuah senyum dan kecupan di pipinya. Dengan sebuah isyarat, aku menyuruhnya untuk melepaskanku.
Lagi-lagi. ekspresi itu yang ia tunjukkan. Ekspresi seakan-akan ia telah terluka. Tapi pada akhirnya tangannya membiarkanku lepas.
“Terserah kalau memang itu maumu. Aku… akan coba berjalan mengikuti arus waktu. Bye, Lys,” ia pergi meninggalkanku dengan sebuah senyum berat.
Ia telah pergi. Kini di ruangan dengan bau khas buku tua penuh debu, aku sendirian. Pada akhirnya hatiku kalah pada logika yang terus merasa ketakutan. Aku kalah pada logika yang sempat mati. Aku… pada akhirnya terluka parah meski aku tak sempat memilikinya.

Paranoid.

Tolong, aku butuh seseorang yang mampu membunuh ketakutan pada logikaku yang semakin menjadi-jadi…
*****
Read More

Minggu, 21 Agustus 2011

Dear Someone - Kepada Engkau, Pemilik Hati

Kepada Engkau, Pemilik Hati
Original story by Firdausi

“Aku cinta kamu.”
Kuharap setiap kata-kata yang kau ucapkan itu adalah keseriusan dirimu. Sayang kau hanya bercanda ketika setiap kalimat itu keluar dari bibirmu. Karena begitulah biasanya kau membuat candaan padaku.

Tapi tak apa-apa. Karena aku tahu kau bicara begitu hanya padaku, sahabatmu seorang. Tak apa-apa karena setiap kau berkata seperti itu, aku bisa melihat senyum tengil yang selalu membuatku terpikat.

“Aku juga. Cinta banget sama kamu.”
Seandainya kau tahu, aku mengucapkannya dengan menyiratkan keseriusanku. Tapi senyumku selalu menyembunyikannya. Di balik senyum itu, selalu ada air mata yang mengalir menggantikan perasaanku.

Tapi tak apa-apa. Karena aku sudah nyaman berada di posisiku. Aku tak berani melangkah karena akan menimbulkan perkara lain. Kau… telah dimilikinya.

“Aku cinta kamu.”
Kini aku tahu. Setiap kau keluarkan kalimat yang membuatku mengambang di antara jurang dan langit, itu ketika kau merasa kalut karena kekasihmu. Pelampiasan. Dan aku hanya diam saja meski tahu dijadikan media.

Tak apa-apa, tak apa-apa. Karena kurasa aku satu-satunya yang bisa kau mintai tolong. Itu suatu kesenangan tersendiri untuk diriku yang masih di ambang jurang.

“Aku berantem lagi sama dia.”
Wajahmu sendu. Tapi aku menyimpan tawa dibalik senyum untuk menenangkanmu.

“Tidak apa-apa. Dia sayang padamu”
Kata itu sebuah kemunafikan diriku untuk membuatmu bersandar padaku. Seandainya kau tahu, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku berharap kau benar-benar berpisah dengannya. Aku berharap sebuah kebencian tumbuh ketika kau merasa dicampakkan.

Tidak apa-apa, tidak apa-apa.
……
Salah! Sekarang bukannya tidak apa-apa lagi. Kau tersenyum padaku, tapi beda. Ketika kau kembangkan senyum di depannya, aku bisa lihat ketulusanmu hingga membakar sesuatu di sela rongga dada. Panas. Ada doa di setiap percikannya. Tapi aku masih tak berani melangkah maju. Tuhan, pisahkan mereka, kumohon!

Kotor. Darahku semakin kotor oleh kecemburuan. Di antara setiap keluhanmu, ada doa yang mengutuknya. Di setiap kata cinta dustamu, ada doa harapanku. Aku semakin mendekati jurang. Tangan-tangan iblis menarikku perlahan-lahan. Aku telah buta karena cinta diam-diam.

Setiap kau keluhkan ia, setiap saat itu pula kau menuturkan rangkaian puitis untuknya. Aku bosan! Aku marah! Ketika kau bicarakan ia, setiap larut malam aku menangis. Ketika kau lantunkan lirik untuknya, aku menyanyi untuk kesedihanku. Kau berkeluh kesah padaku, tapi pada siapa aku bisa berkeluh kesah? Padamu kah? Tidak, karena aku ingin mengeluhkan dirimu yang selalu tak menyadari aku yang menunggu di terminalitas.

“Aku cinta kamu.”
Aku tak sanggup lagi. Sebuah media pelampiasan pun bisa rusak. Sama sepertiku. Kau bilang cinta aku, tapi bohong. Tak sekali pun kau mengerti bagaimana hatiku merasa nyeri saat kau bilang cinta dusta itu. Tak sekali pun kau melihat ke dalam diriku yang menangis diam-diam dalam gelapnya malam.

Aku benci matamu yang selalu memantulkan bayangannya. Aku benci tanganmu yang mengelusnya lembut. Aku benci senyummu untukku yang tak bisa setulus kau tersenyum untuknya. Aku benci dirimu. Tapi aku terjerumus oleh kepura-puraanmu. Aku jatuh cinta.

……

Tapi kurasa, aku lebih membenci diriku yang tak bisa bersinar melebihi ia yang bisa membutakan matamu. Aku selalu berada dalam bayang-bayangnya yang tak sekali pun pernah terpantul dalam matamu. Aku benci… pada aku yang tak bisa sekali pun meninggalkan  batas antara kau dan aku.

Tapi kini, kurasa aku akan mundur. Bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Cinta ini yang membuatku bergerak dari batas itu. Aku bosan menunggu di terminal yang sama tanpa seorang pun yang menjemput. Aku akan pergi bersama malaikat-malaikat yang berputus asa.

Ketika aku tak berada di sini lagi, ketika kau kehilangan satu tiang, ketika kau tak bisa menemukan bayang-bayang dalam sosoknya, akankah kau menyadariku?Ketika nanti saat kau sadar, aku tak ada lagi. Bahkan saat kau cari ke ujung dunia pun, sosok nista ini tak akan pernah kau temui.

Aku akan pergi. Bersama para iblis, aku terjun ke bara api. Aku akan pergi tanpa pernah kembali dengan sebuah surat yang kutinggalkan di terminalitas.

Selamat tinggal…

Read More

Minggu, 07 Agustus 2011

Remember When

Remember When
Original story by Firdausi

Gadis itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya; duduk di atas kursi rodanya memandang keluar jendela transparan yang lebar sebagai pengganti dinding. Tatapannya kosong, entah memandang ke mana. Kurasa jiwanya sedang berputar-putar dalam halusinasinya. Rambutnya yang panjang semakin tak terawat, benar-benar kusam. Tapi dia lah wanita yang kucintai.
Aku menutup pintu kamarnya setelah lama terpaku menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. Kuusahakan untuk tersenyum meski aku yakin ia tidak akan melihatnya. Perlahan aku berjalan menuju ke arahnya. Aku duduk dengan bertumpu pada lutut di sampingnya. Tanganku merengkuh tangannya yang tak bergerak di pegangan kursi rodanya. Ia menoleh padaku, masih dengan mata yang sama dan tanpa ekspresi. Hatiku begitu sakit, seakan-akan ribuan paku ditancapkan hingga menembus tubuhku. Meski begitu, aku berusaha tetap tersenyum.
“Selamat siang, Eve. Kau baik-baik saja hari ini?”
Tak ada jawaban darinya. Aku semakin menggenggam erat tangannya seraya berusaha tidak memudarkan senyum meski aku ingin menangis.
“Aku ingin bercerita padamu lagi. Maaf, jika mengganggu. Tapi aku berharap kau ingat….”
Aku mulai memenuhi ruangan itu dengan suaraku.
*****

Kau ingat? Kita bertemu tiga tahun yang lalu. Kita bertemu di sebuah café yang tak jauh dari sekolahku. Saat itu temanku memaksaku untuk ikut dengannya, bertemu gadis yang ia kenal dari jejaring sosial. Dia tidak berani datang sendiri hingga membawaku secara paksa untuk menemaninya. Aku benar-benar kesal padanya. Padahal ia bilang hanya minta temani ke toko buku untuk membeli komik yang terbit hari itu. Tapi dia menipuku! Yah, meski begitu, pada akhirnya aku harus berterima kasih padanya, karena tanpa dirinya yang membawaku paksa pada pertemuan kopi darat itu, aku tidak akan pernah mengenalmu.
Aku duduk di sampingnya tanpa bicara apa pun sembari melipat tangan. Sepertinya ia senang sekali bertemu dengan gadis yang ia kenal di jejaring sosial meski sedikit merasa canggung. Sesekali ia membawaku dalam percakapan mereka. Berkali-kali aku berdecak kesal. Lalu mataku tanpa sengaja melihatmu yang duduk di sebelah gadis itu.
Kau juga sepertinya tak peduli dengan masa pendekatan pasangan di sebelahmu. Kau hanya peduli dengan segelas es krim yang dihiasi berbagai macam buah. Lahap sekali kau memakan es krim itu sesendok demi sesendok. Kau bahkan tidak peduli seberapa berantakannya wajahmu saat itu. Rambutmu juga menjadi korban dari “kerakusan”-mu, kotor karena tanpa sengaja menyentuh es krim yang sudah habis separuhnya itu. Aku… benar-benar terpaku padamu saat itu. Bukan karena terpesona, hanya saja baru kali ini aku bertemu gadis cantik yang makan es krim dengan tidak anggun sepertimu.
*****

Kukira aku tak akan pernah melihatmu lagi. Tapi Tuhan berkata lain dan Ia kembali mempertemukan kita.
Aku baru pulang sekolah waktu itu. Karena ada komik favoritku diterbitkan semalam, bergegas kakiku melangkah memasuki toko buku dan tanpa basa-basi, aku mendatangi deretan komik-komik terbaru. Di saat itu, aku bertemu denganmu. Ah, lebih tepatnya aku menemukanmu.
Kau berjalan perlahan sambil mengamati satu per satu judul buku di bagian komik-komik pula. Kurasa kau juga baru pulang sekolah karena kulihat yang melekat pada dirimu saat itu adalah baju putih abu-abu. Jari telunjukmu mengetuk-ngetuk bibirmu yang tipis dengan tempo yang sama. Lalu matamu terbelalak dengan senyum lebar di wajahmu. Tanganmu dengan cepat mengambil satu komik yang aku sendiri tidak tahu apa. Sepertinya kau senang sekali.
Aku tersadar kembali dan mengalihkan perhatianku darimu. Jujur saja, aku sendiri tidak mengerti entah kenapa begitu tertarik melihat dirimu saat itu. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiranku dan mulai memokusan mata pada huruf-huruf yang tertera di setiap buku yang berderet di dalam rak.
Tapi suara brak yang nyaring kembali mengalihkan perhatianku. Sumber suara itu berasal dari kolom rak buku di depanku, tempatmu berada. Dan benar saja, saat aku menengok ke sana, kau sedang gelagapan membereskan buku-buku yang jatuh karenamu, mungkin. Wajahmu sedikit memerah, kurasa kau menanggung rasa malu yang cukup besar. Karena kebaikanku saat itu, aku tanpa pikir panjang ikut memunguti buku-buku yang berserakan.
“Terima kasih,” ucapmu dengan suara yang hampir pecah. Keringat mengucur di dahimu. Kau sepertinya benar-benar gugup, ya, waktu itu.
“Yaaahh, nggak masalah,” jawabku.
Kau hanya tersenyum lalu kembali berkutat pada buku-buku di rak. Tanganmu membawa tas toko buku. Kelihatannya cukup berat. Kau memang membeli banyak buku tapi aku tidak tahu apa saja yang kau beli itu.
“Banyak juga yang kau beli,” komentarku. Kau hanya menggumam kecil. “Ngomong-ngomong, gimana hubungan temanmu itu dengan temanku?”
Akhirnya kau memandangku. Tapi dari kerutan di dahimu, sepertinya kau sendiri bingung.
“Maaf, apa kita saling kenal?” pertanyaan itu membuatku berpikir kalau kau orang yang benar-benar cuek.
“Entah ingatanmu yang rendah atau memang kau nggak punya niat lihat sekitarmu, tapi kita pernah ketemu,” ujarku. Sepertinya saat itu kau kesal dengan perkataanku yang cukup tidak sopan, tapi kau diam saja, hanya menggumam, mempertanyakan sekali lagi. “Di café saat temanmu bertemu dengan temanku. Kau asyik sendiri dengan es krim di depanmu.”
“Oh… kau ada juga di sana, ya. Maaf. Evelin, biasa dipanggil Eve,” kau mengulurkan tangan.
“Ya, nggak masalah. Giovani, panggil saja Gie,” aku menyambut uluran tanganmu.
Dan dari situ lah kita mulai dekat.
*****

Saat kusadari aku telah bercerita cukup panjang, kulirik wajah gadis yang duduk di kursi roda tadi. Matanya tertutup. Pada saat itu juga kekhawatiran menghembus, menggelitik hatiku. Tapi gerakan jarinya yang masih dalam genggamanku, menjauhkan rasa khawatir itu. Tanpa sadar aku menghela napas lega.
Aku beranjak dan mengambil tempat berdiri di depannya, menghalangi cahaya matahari sore menyinari wajahnya yang begitu tenang. Kuelus sekali rambutnya yang kusut lalu mengangkatnya dari kursi roda dan membaringkannya di atas tempat tidur. Semakin hari kurasakan berat badannya semakin berkurang dari seberapa ringannya ia bisa kuangkat. Tubuhnya yang kurus itu kubalut dengan selimut. Sekali lagi aku mengelus rambutnya, kemudian kukecup keningnya dengan lembut.
“Aku pulang, ya, Eve. Aku sayang kamu,” kubisikan kata itu di telinganya meski saat ini ia tidak bisa mendengar – bukan karena tuli, tapi karena ia tidur. Suaraku benar-benar pecah karena sekuat tenaga aku menahan bening-bening air jatuh dari pelupuk mata.
Pelan-pelan aku menutup pintu kamarnya setelah lama memandangi tubuh kecil yang tak berdaya itu di atas tempat tidur.
*****

“Baby let me in
You are the one, you are the one
Who can make moments last forever
The one that makes the sunshine where ever you go
Why make it harder, than it has to be
Just listen, I’ll give you love
If you’ll give me your heart”

- C21: You Are The One –

Kau ingat lagu ini? Aku yakin tidak karena demensia yang kau derita saat ini. You Are The One milik C21 ini kupakai untuk menyatakan perasaanku padamu.
Saat itu terik mentari menjadi saksi bisu momen terindah dalam hidupku. Aku ditemani dengan gitar dan dukungan sahabatku, menunggumu di gerbang sekolahmu, kemudian menyanyikan lagu itu untukmu sambil berlutut. Entah seberapa merahnya wajahku saat itu karena malu dan sorak sorai penghuni sekolahmu yang juga ingin pulang. Yang pasti saat itu urat maluku sudah kuputus lebih dulu meski tanganku masih gemetar dingin saat memetik gitar untuk mengiringi lagu yang kunyanyikan.
Aku beranikan diri untuk melirik ke arahmu. Wajahmu tak kalah merah dengan wajahku. Bahkan kau salah tingkah, kaku, tidak tahu apa yang ingin kau lakukan. Temanmu yang pada akhirnya menjadi kekasih sahabatku itu mendorong-dorong tubuhmu ringan dan mendesakmu untuk menjawab pernyataan cintaku. Aku tersenyum saat mata kita bertemu. Bahkan bibirku pun gemetar.
“Eve…,” suaraku bahkan seakan berbisik.
Kau hanya mengangguk kecil dengan senyum yang tak bisa kau hentikan lagi. Dengan malu-malu kau sedikit memalingkan wajah.
“Kalau kau memaksa.”
“Kau suka padaku?” aku ingin memastikan. Kau hanya mengangguk sekali dan kembali menyembunyikan wajah.
Betapa bahagianya aku hanya karena satu anggukan darimu. Aku segera bangun dan berlari ke arahmu kemudian memelukmu. Kau meronta kecil memintaku untuk melepaskanmu karena sorak sorai dan puluhan tepuk tangan yang semakin riuh menggoda kita. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu karena bahagia. Agar kutunjukkan pada orang-orang itu bahwa kau sekarang menjadi milikku.
*****

Hari-hari yang kulalui bersamamu begitu indah. Kau adalah warna dalam hitam putih kehidupanku. Tapi meski sebahagia apa pun kita, pasti ada konflik yang mendera dalam suatu hubungan.
Aku paling ingat saat kau berhari-hari tak mau bicara padaku. Kau tak tahu seberapa depresinya aku saat itu. Kuhubungi melalui ponsel pun, kau tak mau mengangkat. Kudatangi ke sekolahmu dan menunggumu di depan gerbang. Kau tak kunjung keluar karena kau lebih memilih jalan lain selain gerbang depan. Hingga akhirnya aku nekat mendatangi rumahmu.
Orang tuamu bilang bahwa kau tidak ingin bertemu denganku. Tapi aku berusaha untuk diijinkan masuk, paling tidak sampai depan kamarmu. Orang tuamu sepertinya iba padaku – ah, mungkin kesal dan lelah melayaniku – hingga akhirnya aku diperbolehkan masuk.
Kuketuk pintu kamarmu yang penuh tempelan stiker anime – Kau memang maniak anime sepertinya.  Tapi tak ada jawaban sama sekali darimu. Padahal aku yakin kau ada di dalam. Aku tahu jika aku hanya mengetuk pintu kamarmu saja, itu akan sia-sia. Jadi kumulai untuk bicara, entah itu akan berhasil atau tidak.
“Eve, kau di dalam, kan?”
Masih tak ada jawaban darimu.
“Kau marah padaku? Kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?” seruntun pertanyaan itu kuberikan, tapi kau masih tidak bersuara. Kau benar-benar keras kepala. “Aku sayang kamu, Eve.”
“Bohong!” akhirnya kau angkat bicara meski dengan nada yang tinggi. Samar-samar kudengar suaramu serak.
“Aku nggak pernah bohong padamu.”
“Bohong! Kau selingkuh, kan? Aku lihat kau pergi dengan cewek lain.”
“Kapan?” tanyaku bingung. Bahkan aku sendiri tak ingat pernah pergi dengan wanita lain selain dirimu.
“Minggu lalu di supermarket. Cewek itu manis. Kau pacaran saja dengannya sana, bodoh!”
Kuputar kembali memori dalam otakku. Minggu lalu aku memang pergi ke supermarket. Tapi aku tidak pernah ingat pergi dengan wanita lain. Aku menghela napas panjang. Aku tahu kau telah salah paham.
“Aku nggak mau pacaran dengannya.”
“Sudahlah, aku nggak mau tahu lagi. Gie idiot! Bodoh!”
“Dia adikku,” ujarku di sela cacianmu.
“Hah? Kau mau bohong dengan beralasan murahan seperti itu?”
“Aku nggak bohong. Makanya, buka dulu pintu kamarmu ini. Aku ingin ketemu kamu,” bujukku.
Pada akhirnya kau membukakan pintu kamarmu. Wajahmu benar-benar berantakan karena air mata. Benar dugaanku, kau menangis. Aku segera saja memeluk tubuh mungilmu itu. Sekali lagi kau meledakan tangisanmu. Sebisa mungkin aku membujukmu untuk berhenti menangis dengan mengelus-elus kepalamu lembut.
Emosimu mulai stabil kembali. Kulepaskan kau dari rangkulan. Hidungmu benar-benar merah. Aku menepuk kepalamu ringan lalu tersenyum.
“Wanita yang kau lihat itu bukan selingkuhanku. Dia benar-benar adikku,” jelasku kemudian merogoh kantong celana untuk mengambi ponsel. Kutunjukan fotoku berdua dengan adik manisku itu. “Lihat. Kalau dilihat baik-baik aku dan dia mirip, kan? Mana mungkin aku dan dia pacaran, kan?”
Kau menoleh padaku. Matamu menelisik mencari pembenaran atas kalimatku dan kurasa kau mendapatkannya. Kau kembali memelukku erat. “Aku sayang kamu,” sepenggal kalimat itu keluar dari mulutmu.
Kuingat-ingat lagi, itu pertengkaran kita yang paling konyol. Kau salah paham hingga membuatku depresi. Aku selalu tertawa setiap kali mengingat hari itu.
*****

Tubuh gadis itu kini terbaring di tempat tidur. Bahkan untuk duduk di kursi roda pun ia tak punya tenaga lagi. Wajahnya semakin hari semakin pucat dan tirus. Tubuhnya benar-benar tak terawat. Kulit yang dulunya begitu mulus kini terasa kasar.
Aku duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangannya yang semakin hari semakin kecil. Suara indah personil C21 masih melantun melaui mp3 player yang kuletakan di samping telinganya. Agar ia ingat kenangan indah itu, agar ia mengingatku.

“I’m a circle incomplete
I’m a heart that barely beats
All the memory stay forever like tattoos
I’m a star without a sky
I’m hello with no goodbye
I’m the dreams we had that never will come true
That’s me with no you”

         - Bowling For Soup: Me with no you -

Playlist memutar lagu selanjutnya, membuatku sadar bahwa saat ini aku benar-benar rapuh. Satu-satunya penyemangatku adalah dia yang tak kalah rapuhnya dariku. Kupandangi wajah gadis di sampingku sembari kuelus-elus rambut kusamnya dengan lembut. Berkali-kali aku mengecup keningnya ringan. Tanpa sadar air mataku jatuh mengenai pipinya. Memoriku kembali ke masa itu.
*****

Seburuk-buruknya masalah yang mendera kita, berita tentang penyakitmu yang paling buruk.
Awalnya kau menunjukkan perubahan sikap. Kau yang selama ini ceria bagai matahari itu tiba-tiba saja murung seakan ada sesuatu yang menutupi cahayamu. Kau lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan teman-temanmu. Bahkan denganku pun kau tak ingin bertemu. Kau lebih sering menentang kedua orang tuamu. Padahal aku tahu kau adalah anak baik yang selalu membanggakan orang tuamu di setiap percakapan yang kita buat.
Kadang kau berteriak sendiri, menyudut di ujung dinding. Setiap kali ditanya, kau hanya kembali mengeluarkan lengkinganmu sambil menunjuk pada tempat yang tak ada apa-apanya. Tatapan matamu yang membelalak itu seakan-akan kau takut pada sesuatu. Tapi apa? Kau sendiri tak bicara bahkan padaku.
Tapi sikap itu hanya kadang-kadang saja kau tunjukan. Psikismu seakan sedang labil. Entah ada masalah apa yang menimpamu, kau pun tak bicara apa pun. Kutanya temanmu, kau sama sekali tak punya masalah yang bisa membuatmu begitu labil di sekolah. Mereka bilang kau berubah sikap tanpa alasan.
Orang tuamu kadang-kadang membawamu ke psikolog. Tapi tetap saja tak ada hasil karena kau tak bicara. Bahkan kau bilang bahwa kau tak pernah bersikap seperti itu.
Belum selesai dengan masalah psikis-mu yang mulai hancur itu, kau semakin hari semakin ceroboh saja. Tidak ada batu, tidak ada sesuatu yang bisa membuatmu hilang keseimbangan, kau jatuh begitu saja.
Lalu suatu hari aku sedang bercanda denganmu. Aku mengambil topi yang kau pakai dengan usil dan menjauhkan darimu. Kau berusaha menggapainya, tapi tak bisa. Melihat pipimu yang mulai menggembung, aku tahu kau kesal. Jadi kubiarkan kau agar bisa mengambilnya. Tapi kulihat tanganmu tak kunjung mengambil topimu. Kau seperti sengaja menggerakkan tanganmu ke kiri atau ke kanan topi.
“Jangan bercanda, Eve…,” ujarku. Tapi wajahmu tak menunjukkan bahwa kau sedang bercanda.
“Aku… bukan sedang bercanda, Gie. Kenapa…” kau sendiri heran dan masih berusaha mengambil topi di tanganku yang berada di depanmu.
Seandainya itu hanya bercanda, aku pasti akan tertawa lebar. Tapi kerutan di dahimu yang dalam dan rasa takut yang tergambar jelas di wajahmu itu membuktikan bahwa kau tidak sedang bercanda. Lagipula kau bukan aktor yang baik untuk berbohong.
Aku menyerahkan topi itu padamu. Tanganmu gemetar dahsyat. Aku segera merengkuhnya dan menggenggam tanganmu dengan erat. Aku bisa merasakan ketakutanmu saat itu. Kau menangis dalam diam, dalam pelukanku.
*****

Ataksia. Begitu dokter bilang. Penyakit yang menyerang sistem syaraf hingga keseimbanganmu semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang banyak merenggut nyawa orang. Mendengar kau mengidap penyakit itu, aku seakan dipukul dengan ribuan ton besi. Tapi aku tahu, bahwa kau lebih menderita daripada aku. Kau yang menanggung semua kesakitan itu.
Tapi pada akhirnya, ataksia bukan masalah utamamu. Semua diketahui saat kau mengalami demensia yang cepat. Demensia merupakan bahasa kedokteran untuk daya ingatan yang turun. Bahkan kau bertanya padaku, “Kau siapa?”
Kau tahu? Betapa sakitnya hatiku ketika tahu kau begitu mudahnya melupakan aku. Betapa hancurnya aku saat pertanyaan itu meluncur dari mulutmu. Betapa seringnya aku dijatuhkan dalam jurang yang dalam karena tatapan matamu yang merasa asing padaku. Tapi seberapa pun sakitnya aku, kau masih lebih sakit. Melupakan orang yang kau cintai adalah hal yang paling menyakitkan meski kau sendiri tak merasakannya, aku tahu itu. Jadi aku berusaha untuk bangkit  dan tetap tersenyum untuk menjadi penopangmu meski kau tak kenal padaku lagi.
Creutzfeldt-Jakob, nama penyakitmu yang sebenarnya. Perubahan sikap, halusinasi, dan ataksia hanya awal dari penyakit mematikan yang kau derita. Penyakit yang disebabkan oleh prion;  penyebab penyakit yang hanya terdiri dari protein yang menyerang sistem syaraf pusat. Dokter bilang penyakit ini jarang sekali ditemukan bahkan perbandingannya 1:1000.000 dan dulu hanya menjangkiti orang tua. Tapi sekarang beda. Penyakit ini juga bisa menyerang anak muda sepertimu.
Tapi dari jutaan manusia itu, kenapa harus kau yang menderita karena penyakit ini. Kenapa harus kau yang merasakan sakit. Orang bilang Tuhan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Lalu apa kau cukup tangguh untuk melawan penyakitmu? Apa kau sanggup menanggungnya dengan tubuh mungilmu? Seandainya aku bisa, aku ingin sekali menggantikanmu.
*****

Kali ini air mataku benar-benar tak terbendung. Memutar memori pada hari-hari menyakitkan dan sepi itu membuatku menjadi laki-laki tak berdaya. Aku semakin erat menggenggam tangannya, semakin sering mengelus rambutnya dan berkali-kali membisikannya kata cinta, berharap ia bangun dengan hal itu.
Dokter bilang dia hanya bisa bertahan empat bulan. Tapi satu setengah tahun sudah berlalu dan jiwanya masih menyangkut pada raganya. Dokter itu salah dan kurasa Tuhan memang memberikan cobaan pada orang yang tepat. Meski dengan tubuh kecilnya itu, ia bisa bertahan selama ini. Maka dari itu, aku menunggu keajaiban saat ia membuka mata dan berkata, “Aku sayang kamu, Gie.”
“Eve, bangunlah.  Ayo kita ke taman bermain lagi. Aku janji nggak akan mengajakmu ke rumah hantu lagi. Aku tahu, kau nggak suka,” bisikku dalam isak tangis. “Eve…”
Kurasakan jemarinya bergerak menggenggam tanganku. Aku melirik melihat wajahnya. Napasnya terdengar berat dan pendek. Aku berharap ia segera membuka mata.
“Eve… Eve…. Eve, bangun, Eve…”
Pada akhirnya semakin lama napasnya semakin ringan hingga kurasakan tak ada udara yang keluar dari paru-parunya. Tangannya yang menggenggam tanganku perlahan mulai lepas dan lunglai. Kulihat setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya tapi sebuah senyum kecil terpampang di wajahnya.  Ia tidur dan tak mungkin untuk membuka mata lagi.
Air mataku semakin tak terbendung.  Aku masih menggenggam tangannya yang tanpa denyut nadi itu dengan erat. Aku diam, hanya tenggelam daam kesedihanku. Kali ini aku benar-benar jatuh karena satu sayapku telah lenyap.
Eve, apa kau begitu menderitanya hingga memilih untuk meninggalkanku sendirian di sini? Apa kau sekarang bahagia? Kurasa ya dari senyum yang tersungging di wajahmu untuk terakhir kalinya. Kalau memang begitu, aku merelakanmu. Selamat tinggal, Eve. I always love you until I die.
*****

- Epilog -
Aku merasa asing. Bahkan dengan orang di sekitarku pun aku tak kenal. Mereka bilang aku hilang ingatan karena penyakit yang kuidap. Penyakit itu membuat daya ingatku semakin lama semakin menurun hingga aku melupakan segalanya. Entah mereka bohong atau tidak, tapi mereka merawatku dengan penuh kasih sayang.
Lalu lambat laun tempatku semakin berubah tak nyata. Aku jatuh dalam halusinasiku semakin dalam hingga pada akhirnya aku hanya diam saja menerima dunia halusinasi itu. Bahkan aku tak mengerti mana yang nyata dan mana ilusiku. Tapi satu hal yang kutahu, suara yang selalu mendongengkanku tentang masa lalu adalah sesuatu yang paling nyata di duniaku.
Suara laki-laki itu begitu indah saat menceritakan masa lalunya bersamaku. Kadang terdengar begitu senang tapi kadang aku bisa merasakan kesedihannya dari suara yang kadang berubah lirih.
Lalu pada saat akhirnya aku sama sekali tak bisa bergerak dari tempat tidur, aku mendengar suara tangisnya. Lirih seakan-akan jika tidak kuraih, ia akan hancur. Jadi kuusahakan menggenggam tangannya. Aku jatuh cinta padanya di akhir hidupku. Mungkin untuk kedua kalinya. Kuharap ia tidak akan hancur karena aku telah meraih tangannya, berusaha membuatnya tetap berdiri tegap.
Kuucapkan untuk terakhirnya meski kau tak mendengar. “Aku sayang kamu…, Gie.”

“Goodbye sun shine
Take care of yourself
I have to go, I have to go
And leave you alone
But always know, always know
That I love you so”

         - Avril Lavigne: Goodbye -
Read More